Last Child: Perjalanan, Personel, dan Lagu Hits yang Melejit di Industri Musik Indonesia

Last Child: Perjalanan, Personel, dan Lagu Hits yang Melejit di Industri Musik Indonesia
Last Child (foto/ist)

KLIKSUMUT.COMNama Last Child sudah tidak asing lagi di telinga pecinta musik Tanah Air. Grup musik bergenre pop punk dan rock alternatif ini berhasil mencuri perhatian sejak awal kemunculannya berkat lirik emosional dan aransemen musik yang kuat.

Last Child resmi dibentuk pada 11 Januari 2006. Band ini awalnya digawangi oleh Virgoun (vokal dan gitar), Dimas (bass), dan Ari (drum). Seiring perjalanan waktu, mereka sempat menambah personel dengan masuknya Yodi pada posisi gitar di tahun 2009 untuk memperkaya eksplorasi musik.

Nama “Last Child” sendiri tidak memiliki arti khusus. Saat dibentuk, para personelnya masih berusia muda dan awalnya hanya mencoba peruntungan lewat audisi band. Namun, keberhasilan lolos audisi menjadi titik awal keseriusan mereka meniti karier di industri musik.

Dalam perjalanannya, Last Child mengalami beberapa kali pergantian personel. Ari, Aip, dan Yodi akhirnya keluar dari band. Formasi yang menggarap album studio pertama pada 2012 terdiri dari Virgoun, Dimas, Mamie (gitar), dan Ipank Rizki (drum).

Kini, Last Child dikenal dengan formasi trio yaitu Virgoun, Dimas Rangga, dan Ipank.

Bacaan Lainnya

Karier musik Last Child mulai menanjak sejak merilis mini album Grow Up secara independen pada 2007. Kesuksesan semakin terlihat saat mereka merilis album Everything We Are Everything pada 2009.

BACA JUGA: Band Lakuna: Sempat Bersinar di Era 2000-an, Kini Jadi Legenda Musik Indonesia

Dari album tersebut, lahir sejumlah lagu hits seperti: Diary Depresiku, Pedih dan Kembali

Lagu “Diary Depresiku” bahkan menjadi salah satu karya paling ikonik dan sempat di-remaster oleh Jemi Sitanayah, lulusan Berklee College of Music.

Menariknya, bagian reff lagu ini disebut memiliki kemiripan progresi chord dengan lagu tema animasi Crayon Shin-chan versi Indonesia yang pernah tayang di RCTI.

Popularitas Last Child terus meningkat seiring dukungan penggemar setia mereka yang dikenal sebagai Last Friends. Pada April 2010, tercatat lebih dari 110 ribu fans aktif berinteraksi di media sosial mereka.

Tak hanya itu, layanan RBT (Ring Back Tone) dari lagu-lagu mereka juga mencatat lebih dari 300 ribu unduhan—angka yang cukup fantastis pada masa itu.

Kesuksesan berlanjut dengan dirilisnya album Our Biggest Thing Ever pada 25 Januari 2012. Album ini menjadi tonggak penting karena merupakan album studio pertama mereka.

BACA JUGA: Band La Luna: Perjalanan Karier, Lagu Hits, dan Eksistensi di Industri Musik Indonesia

Dalam album tersebut, Last Child berkolaborasi dengan Giselle dalam lagu “Seluruh Nafas Ini”. Lagu ini juga kerap dibawakan bersama Ashilla Zee dalam berbagai penampilan live di televisi.

Dalam bermusik, Last Child banyak terinspirasi oleh band pop punk asal Amerika, Blink-182. Pengaruh tersebut terasa dalam gaya musik enerjik yang dipadukan dengan lirik penuh emosi.

Last Child menjadi salah satu band Indonesia yang berhasil bertahan dan terus relevan di tengah perubahan tren musik. Dengan karya-karya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mereka tetap memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait