KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Unit grunge Kota Medan, Depresi Demon, untuk kali pertama membawakan secara langsung single terbaru mereka bertajuk “Luminol” dalam gelaran In Release 03 yang berlangsung di Serayu Cafe and Space, Jalan Sei Serayu, Medan, Sabtu (23/8/2026) malam.
Tampil dengan formasi Aga (vokal/gitar), Fattah (bass), dan Syubri Helmy (drum), Depresi Demon langsung menggeber panggung dengan energi penuh dan karakter musik yang kental dengan distorsi.
Sejumlah lagu dibawakan malam itu, mulai dari “Front Lajur”, “Hitam”, “Tikus”, “Luminol”, “Let It Go”, hingga lagu cover “Ace of Spades” milik legenda heavy metal asal Inggris, Motörhead.
Penampilan tersebut menjadi salah satu momen penting bagi Depresi Demon karena single “Luminol” akhirnya diperkenalkan secara langsung kepada penikmat musik di Kota Medan.
Di tengah dominasi platform digital dan layanan streaming musik, Depresi Demon memilih tetap mempertahankan tradisi merilis karya dalam bentuk fisik.
Aga, vokalis sekaligus gitaris Depresi Demon, mengatakan bandnya konsisten merilis album maupun mini album dalam format CD dan kaset pita.
Menurutnya, rilisan fisik memiliki pengalaman tersendiri yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh format digital.
“Karya fisik bisa terus didengar kapan kita mau. Tanpa khawatir server akan down atau terjadi error sistem pada server,” ungkap Aga.
Ia mengaku tumbuh pada era ketika rilisan fisik masih menjadi bagian penting dalam perkembangan musik. Karena itu, ada kedekatan emosional tersendiri dengan CD maupun kaset.
Bagi Aga, rilisan fisik juga memungkinkan penggemar melihat lebih jauh hubungan sosial dan jaringan pertemanan sebuah band atau musisi.
Salah satunya melalui ucapan terima kasih yang biasanya tercantum dalam sampul album maupun mini album.
“Kalau di rilisan fisik kita bisa mengetahui sirkel pertemanan band idola kita dari cover album yang biasa ada di rilisan fisik. Jadi itu juga jadi alasan kami mengapa konsisten merilis karya dalam bentuk rilisan fisik,” jelasnya.
Usai Depresi Demon menuntaskan penampilannya, panggung In Release 03 dilanjutkan dengan unit hiprodic asal Kota Medan, Hikanyatumus.
Malam itu, Hikanyatumus tampil dengan formasi Diki (vokal), Gibran (rapper), Pras (additional bass), Ipul Azhar (additional gitar), dan Maris (additional drum).
BACA JUGA: Mengenal S4, Boyband Indonesia yang Lahir dari Galaxy Superstar, Bawa Nuansa K-Pop
Membuka penampilan melalui single “Inilah Saatnya”, Hikanyatumus langsung mendapatkan sambutan meriah dari para pendukungnya.
Para penggemar yang sejak awal acara sudah berada di lokasi langsung bernyanyi bersama Diki alias Ijonk.
Tak ada sekat antara panggung dan penonton. Penggemar larut dalam lirik dan bait lagu yang dibawakan Hikanyatumus.
Suasana semakin terasa seperti perayaan bersama ketika para penonton mengikuti hampir setiap bagian lagu yang dimainkan.
“Merekalah (penggemar) yang membuat kami terus ada dan berkarya sampai saat ini. Mereka selalu setia hadir di mana pun kami tampil,” ungkap Diki.
Kebersamaan tersebut mencapai puncaknya ketika Hikanyatumus menutup penampilan dengan single “Emosi Hati”.
Lagu tersebut memiliki tempat tersendiri bagi penggemar lama karena sempat menjadi salah satu anthem anak-anak warnet pada era 2009.
Sebelum Depresi Demon dan Hikanyatumus tampil, In Release 03 dibuka dengan sesi dialog yang menghadirkan Adhe Junaedy dari Aksi Kamisan Medan.
Dalam sesi tersebut, isu hak asasi manusia (HAM), ketidakadilan dan kekerasan menjadi bagian dari pembahasan.
Aksi Kamisan Medan disebut konsisten menggelar aksi di titik 0 Kota Medan, Pos Bloc, dan kini telah mendekati pelaksanaan aksi ke-200.
Adhe menyampaikan bahwa aksi tersebut akan terus digelar setiap Kamis.
Bahkan, mereka menyatakan akan tetap bersuara hingga jumlah peserta yang hadir hanya tersisa tiga orang.
BACA JUGA: Musisi Medan Didorong Berani Kolaborasi dan Eksplorasi Lintas Genre
Konsistensi tersebut menjadi bagian dari pesan yang dibawa dalam In Release 03, bahwa ruang kreatif dan musik tidak hanya menjadi tempat berkesenian, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyuarakan persoalan sosial.
Meski hampir 200 kali menggelar aksi di Pos Bloc dan tuntutan mereka disebut belum mendapat respons dari pemerintah maupun pihak otorita, Aksi Kamisan Medan tetap memilih untuk menyuarakan persoalan ketidakadilan, HAM dan kekerasan.
Perpaduan dialog sosial dan penampilan musik dalam In Release 03 pun menghadirkan sebuah malam yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga ruang pertemuan antara musik, komunitas dan keresahan sosial di Kota Medan. (KSC)
REPORTER: Bayu








