Masyarakat Jambi Mulai Terserang Penyakit Akibat Asap Karhutla, Warga Diminta Waspada

Masyarakat Jambi Mulai Terserang Penyakit Akibat Asap Karhutla, Warga Diminta Waspada
Hapiza, 3 tahun, anak yang terkena pilek dan batuk akibat asap di Jambi. (kliksumut.com/Dalil Harahap)

KLIKSUMUT.COM | JAMBI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Jambi, Riau, hingga Kalimantan mulai menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Asap pekat akibat karhutla membuat warga mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari batuk, pilek, sakit kepala, demam hingga mata perih.

Memasuki musim kemarau, kondisi cuaca yang cenderung kering meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Asap yang dihasilkan karhutla kemudian menyebar dan berpotensi menurunkan kualitas udara serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Salah seorang warga kawasan Rajawali, Jambi, Lia, mengaku anaknya mulai mengalami batuk dan pilek yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

BACA JUGA: Peredaran Uang Palsu di Jambi Makin Masif, Susah Bedakan Asli Dengan yang Palsu

“Anak saya sudah batuk dan pilek. Sekarang sedang berobat jalan dan di rumah juga menggunakan masker,” ujar Lia, Senin (24/8/2026).

Bacaan Lainnya

Asap Karhutla Berbahaya bagi Kesehatan

Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar asap biasa. Di dalamnya terdapat partikel halus seperti PM2.5, karbon monoksida, serta berbagai zat berbahaya lainnya yang dapat terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru.

Paparan asap dalam kondisi pekat dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Sejumlah keluhan yang dapat muncul akibat paparan asap karhutla antara lain batuk, pilek, sesak napas, iritasi tenggorokan, serta kambuhnya gangguan pernapasan.

Selain itu, mata juga dapat mengalami iritasi yang ditandai dengan rasa perih dan merah. Hidung berair, tenggorokan gatal, sakit kepala, pusing, tubuh lemas dan mudah lelah juga dapat dirasakan masyarakat ketika kualitas udara memburuk.

Paparan asap dalam jangka panjang juga perlu diwaspadai karena dapat memberikan dampak terhadap kesehatan paru-paru dan jantung.

Anak-anak Perlu Mendapat Perlindungan Lebih

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kabut asap karhutla menyelimuti permukiman.

Pasalnya, sistem pernapasan anak masih dalam tahap perkembangan sehingga paparan polusi udara dapat mengganggu kesehatan pernapasan mereka.

Karena itu, orang tua diimbau membatasi aktivitas anak di luar rumah ketika kondisi udara dipenuhi asap. Penggunaan masker dan menjaga kualitas udara di dalam rumah juga penting dilakukan.

Warga Diminta Tidak Membakar Lahan

Masyarakat juga diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Cara tersebut mungkin dianggap praktis, tetapi dapat menimbulkan dampak luas bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Karhutla tidak hanya mengancam manusia. Kebakaran juga menghancurkan habitat dan ekosistem satwa yang berada di dalam hutan.

Pencegahan dinilai jauh lebih baik daripada menunggu api meluas dan kemudian melakukan penanganan.

Sinergi TNI-Polri bersama pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat dalam menangani titik-titik karhutla juga patut diapresiasi.

“Stop membakar lahan dan hutan. Cara kalian mungkin praktis, tetapi merugikan semua orang. Pelaku pembakaran harus ditindak tegas,” demikian seruan masyarakat.

Tips Melindungi Diri Saat Asap Karhutla Pekat

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat asap karhutla, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah pencegahan, di antaranya:

– Menggunakan masker, terutama masker yang memiliki kemampuan filtrasi baik seperti N95 ketika berada di luar ruangan.

– Mengurangi aktivitas di luar rumah saat asap sedang pekat.

– Menutup pintu dan jendela agar asap tidak mudah masuk ke dalam rumah.

– Menggunakan air purifier jika tersedia atau membersihkan ventilasi secara berkala.

– Memperbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi.

– Tidak membakar sampah di lingkungan rumah.

– Mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

– Menyalakan lampu kendaraan saat berkendara dalam kondisi jarak pandang terbatas.

BACA JUGA: Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polda Jambi Laksanakan Penanaman Bawang Putih di Kayu Aro

Masyarakat yang mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, batuk berat atau kondisi kesehatan yang memburuk disarankan segera mendapatkan pertolongan medis.

Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin.

“Udara bersih adalah hak kita. Udara bersih untuk Jambi sehat. Stop karhutla!” (KSC)

Reporter: Dalil Harahap

Pos terkait