KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Musisi dan anak band Medan didorong memiliki kepercayaan diri (self confidence) serta berani bereksperimen dengan hal-hal baru, termasuk melakukan kolaborasi lintas musisi dan genre untuk melahirkan karya yang lebih segar.
Hal itu disampaikan Owner ET 45, Hansen Teo, saat membuka In Release 02 dalam sesi dialog interaktif di Serayu Cafe And Space, Jumat (7/8/2026).
“No music no life, life without music must be mistaken. Musisi atau band harus punya self confidence dan berani mencoba hal baru. Misalnya berkolaborasi dengan musisi atau band di luar genrenya agar menghasilkan karya baru yang lebih segar dan bisa diterima di segmen fan base masing-masing,” ujar Hansen.
Menurut Hansen, ET 45 yang telah berkiprah lebih dari empat dekade di Medan terus berkomitmen memberikan ruang bagi musisi dan band lokal maupun daerah.
Ia juga menegaskan, musisi Medan yang memiliki karya dalam bentuk rilisan fisik dapat menitipkan dan mengedarkannya melalui gerai ET 45.
Sesi dialog yang dipandu Array A Argus berlangsung interaktif dan dilanjutkan dengan live interview bersama dua band, yakni WITA dan Filsafatian.
WITA, unit rock alternatif asal Medan yang terbentuk pada 2021, hadir dengan formasi Hawdy Anders Laifa (drum), Riansyah (bass), dan Aldi Renaldi (vokal/gitar).
BACA JUGA: The Changcuters Guncang PRSU ke-50 di Medan, Ribuan Penonton Bernyanyi Bersama Lagu-Lagu Andalan
Dalam sesi wawancara, mereka mengungkap cerita unik di balik nama WITA. Nama tersebut lahir dari kebiasaan personel yang kerap terlambat saat latihan.
“Jadi kalau janji mau latihan jam Waktu Indonesia mana nih? Waktu Indonesia Tengah (WITA),” ujar mereka sembari tertawa.
Usai wawancara, WITA langsung tampil energik membawakan lima lagu dari mini album debut “Memoir Of The Music Man”. Penampilan mereka ditutup dengan single “Son Of Adam”.
Sesi berikutnya menghadirkan Filsafatian dengan formasi Santus (vokal/gitar), Boim (gitar/vokal), Restu (bass) dan Acie (drum).
Band tersebut mengungkapkan bahwa kunci menjaga lirik tetap kritis dan relevan dengan perkembangan zaman adalah kejujuran.
“Kita tidak punya kiat memilih diksi-diksi yang puitikal atau kiat lainnya. Kami hanya menulis lirik yang jujur sesuai dengan apa yang kami rasakan,” ungkap Filsafatian.
Filsafatian kemudian membawakan lima lagu yang dibuka dengan “Pening Dan Berang”.
Mereka juga memperkenalkan dua lagu yang akan menjadi bagian dari mini album terbaru, yakni “Protest Prayer” dan “Hanya”. Lagu “Hanya” sekaligus menjadi penutup rangkaian In Release 02.
Ajang tersebut kembali menunjukkan bahwa ekosistem musik Medan terus bergerak. Ruang dialog, pertunjukan dan apresiasi terhadap rilisan lokal menjadi bagian penting untuk mendorong musisi daerah semakin percaya diri berkarya dan berkolaborasi. (KSC)
REPORTER: Bayu








