KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Maudy Ayunda kembali memberikan klarifikasi terkait videonya tentang cara menghadapi pemberitaan buruk di Indonesia yang sempat menuai perdebatan di kalangan netizen.
Dalam klarifikasinya, Maudy Ayunda mengakui ada satu hal penting yang belum cukup ia bahas dalam video tersebut, yakni privilese ketika seseorang memiliki pilihan untuk menjauh atau membatasi diri dari pemberitaan.
Pernyataan itu disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Pada Minggu (13/9/2026), ia merespons berbagai komentar dan perspektif yang muncul setelah video tersebut ramai diperbincangkan.
Maudy mengaku telah membaca banyak tanggapan dari publik. Dari berbagai respons tersebut, ia menyadari adanya perspektif yang sebelumnya belum cukup ia refleksikan.
“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya,” tulis Maudy.
BACA JUGA: Deretan Artis Gagal Berangkat Haji 2025 Gara-Gara Visa Furoda Tak Kunjung Terbit
Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf karena aspek tersebut belum cukup disampaikan dalam video yang dibuatnya. “Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” lanjutnya.
Maudy Ayunda Bicara soal Diet Berita
Sebelumnya, video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 tersebut dibuat Maudy untuk membagikan pengalaman pribadinya dalam menghadapi derasnya arus informasi.
Maudy mengungkapkan, paparan berbagai kabar buruk secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi mentalnya. Karena itu, ia memilih untuk mengatur kembali informasi yang masuk ke pikirannya.
Ia menyaring sumber informasi, memilih bacaan yang dikonsumsi, serta berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap memiliki pemahaman terhadap persoalan tertentu.
Menurut Maudy, langkah tersebut dilakukan bukan karena ingin mengabaikan persoalan yang terjadi, melainkan sebagai cara menjaga kondisi mental agar tetap mampu berfungsi dengan baik.
“Jadi aku enggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news ini karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat, itu bisa benar-benar bikin disfungsional,” ujarnya dalam video tersebut.
Maudy juga mengakui dirinya termasuk orang yang cukup emosional dan mudah memikirkan sesuatu secara berlebihan. “Apalagi kayak aku sebenarnya lumayan orang yang emosional dan aku kepikiran dan aku overthinker,” katanya.
Karena itu, ia merasa perlu membatasi paparan informasi agar tidak terus-menerus terbebani oleh berbagai kabar buruk.
Pernyataan Maudy Dipandang Berbeda oleh Netizen
Namun, pesan yang disampaikan Maudy Ayunda tersebut kemudian mendapat beragam respons. Sebagian penonton menilai konsep membatasi paparan berita atau news diet tidak bisa dilepaskan dari realitas yang dihadapi masyarakat.
Bagi orang-orang yang berada di wilayah terdampak suatu peristiwa, misalnya, berita buruk bukan sekadar informasi yang dapat dengan mudah dimatikan atau dihindari. Peristiwa tersebut bisa berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, keluarga, pekerjaan maupun lingkungan mereka.
Kritik dan perspektif tersebut kemudian membuat Maudy kembali mengevaluasi gagasannya.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk tidak peduli terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi. “Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” tegas Maudy.
Maudy: Mindfulness Bukan Berarti Tidak Peduli
Menurut Maudy, mindfulness justru dapat digunakan untuk membantu seseorang melihat suatu persoalan secara lebih jernih.
Ia berharap praktik tersebut dapat membuat seseorang tetap peduli terhadap keadaan di sekitarnya, sekaligus mampu menjaga kondisi emosional ketika menghadapi arus informasi yang sangat besar. “Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak,” ujarnya.
Maudy juga menyampaikan apresiasi kepada publik yang memberikan kritik dan perspektif berbeda terhadap videonya.
Ia mengatakan masukan tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. “Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I’m listening and learning,” kata Maudy Ayunda.
Klarifikasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembahasan mengenai mindfulness dan berita buruk tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang menjaga kesehatan mental, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan privilese yang dimiliki setiap individu. (KSC)








