Sulasno Diserang Buaya di Sungai Marbau, Labura Hadapi Konflik Manusia-Satwa yang Berulang

Sulasno Diserang Buaya di Sungai Marbau, Labura Hadapi Konflik Manusia-Satwa yang Berulang
Korban Serangan Buaya di Sungai Marbau dirawat di RS 3 Bersaudara Kampung Pajak, Labura (kliksumut.com/Fajar)

KLIKSUMUT.COM | LABURA – Sungai Marbau kembali menjadi titik pertemuan berbahaya antara aktivitas manusia dan habitat buaya. Sulasno (45), warga Desa Tubiran, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), diserang buaya ketika mandi di Sungai Marbau, Minggu (13/9/2026).

Informasi berkembang menyebutkan, peristiwa itu terjadi setelah Sulasno selesai memanen sawit. Karena merasa kepanasan, ia memilih mandi di sungai yang berada tidak jauh dari lokasi perkebunan. Namun, tanpa disadari, seekor buaya berada di perairan tersebut dan kemudian menyerangnya.

BACA JUGA: Viral di Medsos! Warga Bakar Kantor Agrinas Palma Nusantara 1 di Labura, Dipicu Kematian Seorang Pria

Warga yang mengetahui kejadian segera memberikan pertolongan. Sulasno kemudian dibawa ke RS 3 Bersaudara Kampung Pajak untuk mendapatkan penanganan medis. Informasi yang diperoleh mengatakan untuk mendapatkan perawatan lebih intensif selanjutnya Sulasno direncanakan dirujuk ke RS Haji Medan.

Camat Kecamatan Marbau, Muhammad Ali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar Sungai Marbau.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kawasan sungai tersebut sejak lama dikenal sebagai wilayah yang menjadi tempat berkembang biaknya buaya. Aktivitas manusia yang semakin sering bersinggungan dengan lokasi yang diduga menjadi habitat atau tempat berlindung buaya dinilai meningkatkan risiko konflik.

“Jika terpaksa beraktivitas dekat sungai tersebut sebaiknya jangan seorang diri,” ujar Muhammad Ali. Warga juga diminta membatasi aktivitas hingga tidak terlalu sore.

Bukan kejadian pertama
Kasus Sulasno tidak berdiri sendiri. Rekam pemberitaan dan dokumentasi konservasi menunjukkan bahwa kawasan Marbau dan sejumlah sungai di Labura telah berulang kali mencatat interaksi negatif manusia dengan buaya. Konflik buaya dengan manusia di Marbau setidaknya terjadi 2018, 2023, dan 2026.

Pada 2018, Balai Besar KSDA Sumatera Utara mencatat adanya konflik buaya dengan masyarakat di Desa Sipare-Pare Hilir, Kecamatan Marbau. Saat itu seekor buaya berada di aliran Sungai Marbau yang menjadi jalur penyeberangan masyarakat menuju ladang. Keberadaan satwa tersebut membuat warga takut.

Petugas konservasi mengevakuasi seekor buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) yang ditemukan warga ketika memancing di sekitar selokan air perkebunan Milano.

Konflik kembali tercatat pada Mei 2023. Di Desa Tubiran, ibu dan anak diserang buaya ketika beraktivitas di tepi Sungai Marbau. Buaya yang dilaporkan berukuran sekitar empat meter kemudian berhasil diamankan warga.

BACA JUGA: Aksi Sosial Kasat Narkoba Polres Labuhanbatu, AKP Hardiyanto Bagikan Sembako kepada Warga Kurang Mampu di Labura

Pada Desember 2023, warga Desa Pulo Bargot bernama Junaidi Ritonga diterkam buaya di Desa Sipare-Pare Hilir, Kecamatan Marbau. Petugas konservasi kemudian melakukan koordinasi dengan kepolisian dan BPBD serta memasang imbauan agar masyarakat berhati-hati beraktivitas di sungai.

Kepada warganya, Camat Marbau M Ali berpesan terpenting saat ini: jangan mandi, mencuci, memancing atau beraktivitas seorang diri di lokasi yang diketahui menjadi habitat buaya. Hindari tepian sungai yang memiliki tanda-tanda keberadaan buaya. Dan jangan beraktivitas hingga senja hari. (KSC)

Reporter: Fajar Dame Harahap

Pos terkait