KLIKSUMUT.COM – Grassrock adalah band rock legendaris asal Surabaya, Indonesia, yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah musik rock Tanah Air sejak terbentuk pada 4 Mei 1984. Dikenal luas sebagai “Yes-nya Indonesia” karena kerap membawakan lagu-lagu milik Yes, perjalanan panjang Grassrock penuh dinamika, pergantian personel, hingga kebangkitan spektakuler di era modern.
Sebelum 2015, industri musik Indonesia lebih mengenal mereka dengan nama Grass Rock (menggunakan spasi). Namun semangat dan karakter musik mereka tetap sama: progresif, enerjik, dan sarat pesan.
Grassrock pertama kali diperkuat oleh Hari (vokal), Mando (keyboard), Harto (gitar), Yudhi Rumput (bass), dan Rere (drum). Mereka sempat mengikuti Djarum Super Rock Festival pada 1984 dan 1985, bahkan berhasil meraih Juara III serta gelar The Best Drummer untuk Rere.
Pada 1986, bersama vokalis Zulkarnaen, Grass Rock meraih Juara I Djarum Super Rock Festival, sekaligus kembali mengantarkan Rere sebagai drummer terbaik. Prestasi itu membuka jalan tur 10 kota bersama God Bless di bawah manajemen Log Zhelebour.
Tahun 1987, mereka kembali menyabet Juara I Festival Rock versi Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, dengan tambahan gelar The Best Keyboardist untuk Mando.
Kesuksesan festival membawa mereka ke dapur rekaman. Grassrock kemudian merilis album-album penting: Anak Rembulan (Peterson) (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (Self Titled) (1994) dan Menembus Jaman (1999)
Pada 1989, single “Prasangka” masuk dalam album kompilasi Rock Kemanusiaan, bersama nama-nama besar seperti Iwan Fals dan Anggun C. Sasmi. Dari proyek tersebut lahir lagu kolaborasi hits “Katakan Kita Rasakan”.
Namun 1999 menjadi tahun duka. Vokalis Dayan Zmach meninggal dunia. Kepergian Dayan sempat membuat langkah Grassrock terhenti.
Pasca kepergian Dayan, posisi vokal sempat diisi Hendry George hingga 2001. Namun dinamika industri membuat Grassrock memilih vakum.
BACA JUGA: Govinda: Transformasi dari Domino hingga Jadi Ikon Pop Rock Indonesia
Pada 2009, mereka bangkit dengan menggandeng Hans Sinjal sebagai vokalis utama serta Ersta Satrya Nugraha di posisi bass additional. Kebangkitan ini menjadi fase penting regenerasi Grassrock.
Cobaan kembali datang ketika Yudhi Rumput meninggal dunia pada 3 Januari 2014 akibat komplikasi penyakit liver. Kepergian Yudhi menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar Grassrock dan pecinta rock Indonesia.
Meski begitu, semangat untuk terus berkarya tak padam.
Tahun 2016 menjadi momentum kebangkitan besar. Grassrock merilis single: “Ekstrimis”, “Aku Ingin Kau” dan “Matahari Sukma”
Mereka juga meluncurkan album kolaborasi “3 To Rock” bersama Boomerang dan D’Bandhits. Album ini dipasarkan secara eksklusif di gerai KFC serta iTunes Store — strategi distribusi yang unik pada masanya.
Di tengah proses tersebut, Mandow menyatakan mundur dari band. Tak lama berselang, Ersta juga resmi hengkang pada 2017.
Sejak 2017, Grassrock digawangi oleh: Rere Reza (drum), Edi Kemput (gitar), Hans Sinjal (vokal), Denny Irenk (keyboard) dan Zondy Kaunang (bass)
Pada 2019, mereka merilis album kompilasi “Grassrock The Greatest Hits”, lengkap dengan single baru: “Grassrock Is Back” dan “Kerinduan”
Album ini menjadi penegasan eksistensi mereka di industri musik Indonesia, sekaligus pengobat rindu penggemar era 90-an.
BACA JUGA: Goodnight Electric, Usung Synthpop Era 80-an dan 90-an
Dengan perjalanan lebih dari empat dekade, Grassrock bukan sekadar band rock biasa. Mereka adalah simbol konsistensi, regenerasi, dan dedikasi terhadap musik rock progresif Indonesia.
Dari panggung festival, tur nasional, kehilangan personel, hingga bangkit kembali di era digital — Grassrock membuktikan bahwa rock sejati tak pernah mati.
Grassrock bukan hanya legenda Surabaya, tetapi juga bagian penting sejarah rock Indonesia yang terus menembus zaman. (KSC)
TIM REDAKSI





