KLIKSUMUT.COM | TIONGKOK – Di tengah ledakan tren Artificial Intelligence (AI) dan serbuan kursus coding di seluruh dunia, dua tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi, Elon Musk dan Jensen Huang, justru memberikan pandangan yang mengejutkan. Alih-alih memfokuskan diri pada pemrograman, mereka memilih untuk mendalami ilmu fisika sebagai landasan utama dalam membangun masa depan AI.
Jensen Huang, CEO Nvidia yang kekayaannya diperkirakan mencapai Rp2.300 triliun, secara terbuka menyampaikan pandangan ini dalam sebuah acara teknologi bergengsi di Beijing, Tiongkok, belum lama ini. Huang menekankan bahwa AI generasi berikutnya tidak bisa hanya bergantung pada algoritma dan data, melainkan harus memahami hukum fisika yang mengatur dunia nyata.
BACA JUGA: Orang Kepercayaan Elon Musk, Omead Afshar, Tinggalkan Tesla di Tengah Tantangan Penurunan Permintaan Global
“Gelombang berikutnya mengharuskan pemahaman pada friksi, inersia, serta sebab dan akibatnya,” ujar Huang, dikutip dari Money Control, Selasa (29/7/2025).
Menurutnya, ketika AI mulai menjelajah dunia fisik melalui robotika dan kendaraan otonom, pemahaman terhadap mekanika, fisika material, dan dinamika gerak menjadi sangat penting. Inilah yang disebut Huang sebagai AI Fisik – konsep yang akan mendominasi pengembangan kecerdasan buatan di masa depan.
Elon Musk: Fisika dan Matematika adalah Kunci Inovasi Masa Depan
Pernyataan senada juga datang dari Elon Musk, pendiri Tesla, SpaceX, dan Neuralink. Musk sudah lama dikenal mengutamakan pemikiran berbasis prinsip dasar fisika dalam menyelesaikan permasalahan kompleks, mulai dari eksplorasi luar angkasa hingga kendaraan otonom.
Dalam beberapa kesempatan, Musk juga mengutip ucapan CEO Telegram, Pavel Durov, yang mendorong siswa agar mempelajari matematika. Musk kemudian menegaskan pentingnya kombinasi antara dua disiplin tersebut.
“Fisika \[dengan matematika],” ucap Musk, menandaskan bahwa inilah fondasi untuk inovasi teknologi yang berdampak.
Filosofi ini tercermin dalam proyek-proyek Musk seperti pengembangan roket yang dapat digunakan ulang, hingga mobil listrik yang mampu mengemudi sendiri. Semua ini menuntut lebih dari sekadar keterampilan coding – diperlukan pemahaman mendalam tentang hukum alam.
Paradigma Baru: Coding Penting, Tapi Fisika Lebih Mendasar
Meskipun keterampilan coding tetap dianggap penting dalam dunia teknologi, pandangan Huang dan Musk ini menjadi pengingat bahwa pemahaman fundamental terhadap ilmu dasar seperti fisika dan matematika justru lebih esensial untuk jangka panjang. AI yang mampu berinteraksi dengan dunia nyata, seperti robot, kendaraan otonom, atau sistem kendali cerdas lainnya, memerlukan pemahaman menyeluruh tentang dinamika dunia fisik.
BACA JUGA: Heboh Elon Musk Dilaporkan Berantem dengan Trump, Ini Sebabnya
Para pelajar dan profesional teknologi kini dihadapkan pada tantangan baru: bukan hanya menguasai bahasa pemrograman, tetapi juga harus mampu berpikir secara ilmiah, kritis, dan sistematis, sebagaimana dituntut dalam ilmu fisika.
Pandangan Elon Musk dan Jensen Huang ini menjadi refleksi penting di era perkembangan AI yang kian masif. Alih-alih hanya fokus pada teknologi permukaan, mereka mengajak dunia untuk kembali ke akar – memahami hukum-hukum dasar alam semesta.
Inovasi masa depan tidak hanya dibangun dari baris-baris kode, tapi dari pemahaman mendalam tentang bagaimana dunia bekerja. (KSC/CNBC)








