Harga Emas Tembus US\$3.376 per Troy Ons, Sentimen Pemangkasan Suku Bunga The Fed Picu Reli

Harga Emas Dunia Anjlok Usai Isu Gencatan Senjata Israel-Iran, Investor Lakukan Taking Profit
Foto: Ilustrasi emas (kliksumut.com/AI/ist)

KLIKSUMUT.COM – Harga emas dunia kembali melesat dan bertahan di atas level psikologis US\$3.300 per troy ons. Penguatan logam mulia ini dipicu oleh ekspektasi kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Pada perdagangan Selasa pagi (5/8/2025) pukul 06.23 WIB, harga emas di pasar spot naik tipis 0,1% ke posisi US\$3.376,91 per troy ons. Sementara itu, pada perdagangan sebelumnya, Senin (4/8/2025), harga emas tercatat menguat 0,31% menjadi US\$3.373,06 per troy ons. Penguatan ini menandai reli tiga hari beruntun dengan total kenaikan sekitar 3%, sekaligus menjadi level tertinggi sejak 23 Juli 2025.

BACA JUGA: Penambangan Emas Ilegal di Kuantan Singingi Terbongkar, Tiga Pelaku Ditangkap Polisi

Analis menyebut, pelemahan data ekonomi AS menjadi katalis utama penguatan emas. Data pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lemah dari ekspektasi serta revisi negatif pada data non-farm payroll (NFP) menambah kekhawatiran pasar atas kondisi ekonomi AS.

“Peluang penurunan suku bunga di bulan September semakin kuat sekarang, dan bahkan lebih besar untuk Desember. Ini, ditambah dengan tekanan inflasi, membuat prospek emas sangat bullish,” kata Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di RJO Futures.

Data NFP dua bulan terakhir direvisi turun sebesar 258.000 pekerjaan. Di sisi lain, indeks inflasi pilihan The Fed, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE), tercatat naik 0,3% pada Juni 2025, setelah direvisi naik menjadi 0,2% pada Mei lalu.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Menguat

Mengutip perangkat CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada bulan September kini melonjak menjadi 87,8%, dari hanya 63% seminggu sebelumnya. Hal ini membuat investor berbondong-bondong beralih ke aset safe haven seperti emas, yang biasanya bersinar di tengah suku bunga rendah dan inflasi tinggi.

Emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas menjadi lebih menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito, sehingga biaya peluangnya lebih rendah.

Faktor Geopolitik: Tarif Trump Tambah Tekanan

Selain faktor makroekonomi, ketegangan dagang turut memengaruhi harga emas. Presiden AS Donald Trump pekan lalu menetapkan tarif baru terhadap sejumlah negara, termasuk: Kanada: 35%, Brasil: 50%, India: 25%, Taiwan: 20% dan Swiss: 39%.

Tarif-tarif ini, menurut Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, kemungkinan akan tetap berlaku dalam jangka panjang sebagai bagian dari strategi negosiasi dagang. Ketegangan perdagangan global ini turut mendorong investor untuk mencari perlindungan di aset aman seperti emas.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Anjlok 4 Hari Beruntun, Terendah dalam Tiga Pekan!

Outlook Emas Tetap Bullish

Dengan sentimen dovish dari The Fed, inflasi yang mulai merangkak naik, serta ketidakpastian global akibat kebijakan proteksionis, analis memperkirakan harga emas masih berpotensi melanjutkan tren penguatannya.

“Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, kita bisa melihat harga emas menguji level resistance berikutnya di US\$3.400 hingga US\$3.450 per troy ons,” kata analis dari ANZ Research dalam catatannya. (KSC)

Pos terkait