KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (5/8/2026). Berdasarkan data kurs yang ditampilkan Google Finance mengacu pada Morningstar pukul 02.23 UTC, 1 dolar AS setara dengan Rp17.944.
Angka tersebut mencerminkan pelemahan tipis dolar AS dibandingkan posisi beberapa hari sebelumnya yang sempat berada di atas level Rp18.000 per dolar AS.
BACA JUGA: Dolar AS Tembus Rp18.065! Rupiah Melemah, Ini Dampaknya bagi Harga Emas, BBM, dan Barang Impor
Grafik pergerakan selama satu bulan terakhir menunjukkan kurs USD/IDR bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.150. Pada awal Agustus, dolar AS kembali terkoreksi dan berada di level Rp17.944, menandakan rupiah berhasil menguat meski masih menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi global.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, antara lain:
– Kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
– Arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).
– Kondisi ekonomi global dan geopolitik.
– Arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Meski menguat tipis, pelaku pasar masih mencermati berbagai data ekonomi yang akan dirilis dalam pekan ini yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS memberikan sejumlah dampak positif, di antaranya:
– Menekan biaya impor bahan baku dan barang modal.
– Mengurangi tekanan inflasi dari barang impor.
– Memberikan sentimen positif bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
Namun di sisi lain, pelemahan dolar dapat mengurangi keuntungan eksportir yang menerima pembayaran dalam mata uang dolar AS.
BACA JUGA: Rupiah Terkapar ke Rp16.750 per Dolar AS, Harga Mie Instan dan Tempe Terancam Naik!
Analis menilai volatilitas nilai tukar masih berpotensi terjadi mengingat pasar global masih dibayangi ketidakpastian ekonomi serta dinamika kebijakan moneter sejumlah negara.
Pelaku usaha dan investor disarankan terus memantau perkembangan ekonomi internasional agar dapat mengantisipasi perubahan nilai tukar yang terjadi sewaktu-waktu. (KSC)








