Rupiah Terkapar ke Rp16.750 per Dolar AS, Harga Mie Instan dan Tempe Terancam Naik!

Rupiah Terkapar ke Rp16.750 per Dolar AS, Harga Mie Instan dan Tempe Terancam Naik!
Tempe

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mencapai level terendah dalam lima bulan terakhir. Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah dibuka melemah 0,09% ke Rp16.750/US$, melanjutkan tren negatif setelah ditutup di Rp16.735/US$ sehari sebelumnya.

Kondisi ini tak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga mulai mengancam harga kebutuhan pokok masyarakat seperti mie instan, tempe, hingga kopi manis di warung.

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang kini didorong oleh revisi data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2025 menjadi 3,8% secara tahunan (YoY), jauh lebih tinggi dari estimasi awal 3,3%. Penguatan ekonomi Negeri Paman Sam ini membuat pasar meyakini bahwa The Fed tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga.

Akibatnya, dolar menguat secara global, dan mata uang negara berkembang seperti rupiah terkena imbasnya.

Ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor membuat pelemahan rupiah langsung berdampak ke harga-harga konsumsi masyarakat. Komoditas seperti gandum, kedelai, gula, dan beras menjadi sorotan utama karena harganya sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: CDIA Bantah Isu Akuisisi ExxonMobil, Saham Tetap Menguat

Gandum: Impor mencapai US$1,29 miliar pada semester I-2025. Seluruh kebutuhan gandum nasional masih bergantung pada impor dari Australia, Kanada, dan Argentina. Produk turunannya seperti mie instan, roti, dan jajanan pasar pun berpotensi mengalami lonjakan harga.

Kedelai: Nilai impor tembus US$577,2 juta, mayoritas dari AS dan Brasil. Kenaikan harga kedelai bisa langsung memukul harga tempe dan tahu, dua makanan favorit masyarakat Indonesia.

Gula: Dengan impor di atas US$1 miliar, harga produk manis seperti kue, minuman kemasan, dan camilan bisa ikut naik.

Beras: Meski ada produksi lokal, Indonesia masih mengimpor dari Thailand, Vietnam, dan Myanmar, menjadikan harga beras pun rawan terdongkrak.

Masyarakat Indonesia sangat dekat dengan produk berbahan baku impor. Ketika harga mie instan naik Rp500, atau tempe menjadi lebih tipis, masyarakat langsung merasakan dampaknya. Bahkan kopi manis di warung, yang mengandalkan gula dan susu impor, bisa menjadi “indikator rakyat” dari melemahnya nilai tukar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pihaknya terus menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai intervensi pasar seperti intervensi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BACA JUGA: BI Cabut Sejumlah Uang Rupiah dari Peredaran! Cek Daftar Uang yang Tak Lagi Berlaku

Namun, selama struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada impor pangan, maka tekanan terhadap rupiah akan terus membawa konsekuensi langsung pada inflasi dan daya beli masyarakat.

Jika tren pelemahan rupiah berlanjut hingga akhir tahun, inflasi pangan bisa menjadi momok nyata di kuartal IV 2025. Pemerintah perlu segera merumuskan strategi jangka pendek dan panjang, termasuk diversifikasi sumber impor, peningkatan produksi dalam negeri, hingga subsidi pangan bagi masyarakat rentan. (KSC)

Pos terkait