KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Berdasarkan data Google Finance, kurs USD/IDR berada di level Rp17.889,60 per dolar AS pada pukul 04.54 UTC, turun 0,16 persen atau sekitar 29,40 poin dibandingkan posisi sebelumnya.
Sehari sebelumnya, dolar AS ditutup di kisaran Rp17.919 per dolar AS. Penurunan tersebut mencerminkan pelemahan mata uang Negeri Paman Sam sekaligus memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat pada awal perdagangan.
BACA JUGA: Harga Dolar AS Hari Ini Turun ke Rp17.944, Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan
Grafik pergerakan satu jam (1H) menunjukkan dolar AS sempat bergerak di atas level Rp17.940, sebelum akhirnya mengalami tekanan jual hingga turun ke bawah Rp17.900.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pelaku pasar yang masih mencermati berbagai sentimen global, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan inflasi global, hingga perkembangan ekonomi dunia.
Selain faktor eksternal, stabilitas ekonomi domestik dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia juga menjadi faktor yang menopang pergerakan nilai tukar rupiah.
Meski demikian, analis menilai volatilitas masih berpotensi terjadi mengingat pasar global masih dibayangi ketidakpastian ekonomi serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal asing.
Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian berbagai kalangan, terutama pelaku usaha, eksportir, importir, hingga investor. Fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor bahan baku, harga komoditas, hingga investasi di pasar keuangan.
BACA JUGA: Dolar AS Kembali Perkasa! Pangsa Cadangan Devisa Global Naik Lagi, Dedolarisasi Belum Mampu Goyahkan Greenback
Apabila tren penguatan rupiah berlanjut, kondisi ini berpotensi memberikan sentimen positif terhadap biaya impor dan menjaga stabilitas harga barang di dalam negeri.
Namun demikian, pelaku pasar tetap disarankan untuk terus memantau perkembangan ekonomi global serta kebijakan moneter yang dapat memengaruhi arah pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan. (KSC)







