KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Konflik geopolitik yang terus memanas di berbagai belahan dunia kembali mengguncang pasar emas global. Setelah dampak perang di Timur Tengah mengganggu rantai pasok logam mulia, kini Uni Eropa resmi melarang impor dan perdagangan emas yang berasal dari Sudan sebagai bagian dari sanksi terbaru terhadap negara tersebut.
Kebijakan ini diperkirakan akan memberikan tekanan baru terhadap perdagangan emas internasional, sekaligus memengaruhi jalur distribusi dan pasokan logam mulia di pasar global.
Mengutip laporan Mining, Senin (20/7/2026), Dewan Uni Eropa menetapkan larangan pembelian, impor, maupun transfer emas yang berasal dari Sudan.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Hari Ini 19 Juli 2026 Stagnan, Buyback Bertahan di Rp2,349 Juta per Gram
Langkah tersebut merupakan bagian dari paket sanksi baru yang dijatuhkan kepada Sudan akibat konflik bersenjata berkepanjangan yang dinilai memperburuk situasi kemanusiaan sekaligus meningkatkan risiko perdagangan emas ilegal.
Dalam pernyataan resminya, Dewan Uni Eropa menyebutkan bahwa selain melarang impor emas, pihaknya juga membatasi ekspor bahan kimia tertentu ke Sudan.
“Keputusan memberlakukan larangan pembelian, impor, atau transfer emas yang berasal dari Sudan. Keputusan ini juga melarang penjualan, pasokan, transfer, atau ekspor merkuri dan sianida ke Sudan,” demikian pernyataan resmi Dewan Uni Eropa.
Konflik antara militer Sudan dan kelompok Rapid Support Forces (RSF) telah berlangsung selama sekitar tiga tahun dan menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius.
Selain menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan jutaan warga mengungsi, perang tersebut juga mengganggu aktivitas ekonomi, termasuk sektor pertambangan emas yang menjadi salah satu sumber devisa utama Sudan.
Larangan Uni Eropa diperkirakan akan semakin mempersempit akses emas Sudan ke pasar internasional.
Sebelumnya, pasar emas internasional juga sempat terguncang akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama ketika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu penutupan wilayah udara di kawasan Teluk.
Situasi tersebut memaksa para pedagang emas di Dubai mengubah jalur distribusi impor dan ekspor logam mulia.
Dubai selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan emas terbesar dunia, yang menjadi penghubung utama pengiriman emas batangan dari Swiss, Inggris, hingga negara-negara Afrika menuju pasar Asia.
Akibat konflik tersebut, banyak pelaku usaha memilih menunda transaksi baru karena biaya pengiriman dan premi asuransi melonjak tajam, sementara kepastian waktu pengiriman sulit dipastikan.
Gangguan distribusi di Dubai turut berdampak pada India yang merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia.
Kepala Riset Augmont Enterprises Ltd, Renisha Chainani, mengatakan keterlambatan pengiriman menyebabkan pasokan emas fisik di India sempat mengalami kekurangan.
“Beberapa pengiriman kargo tertunda atau terhenti, menyebabkan kekurangan pasokan emas fisik di India dalam jangka pendek,” ujarnya.
Di sisi lain, permintaan impor emas di China juga menunjukkan tren pelemahan.
Data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong mencatat impor emas bersih China melalui Hong Kong turun sekitar 38 persen secara bulanan pada Mei 2026.
Volume impor emas tercatat hanya mencapai 53,674 metrik ton, turun dibandingkan 86,715 metrik ton pada April 2026.
Sementara itu, total impor emas China melalui Hong Kong juga merosot sekitar 34 persen, dari 99,327 metrik ton pada April menjadi 65,562 metrik ton pada Mei 2026.
BACA JUGA: Polda Metro Jaya Gandeng FBI dan Kedubes Singapura Uji Keaslian Barang Bukti Kasus Febrie Adriansyah, 74 Kg Emas Ikut Diperiksa
Penurunan tersebut dipengaruhi meningkatnya ketersediaan emas di pasar domestik China sehingga kebutuhan impor menjadi lebih rendah.
Analis menilai kombinasi konflik geopolitik, sanksi internasional, gangguan jalur logistik, serta perubahan permintaan dari negara-negara konsumen utama akan membuat pasar emas global tetap bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.
Sebagai aset lindung nilai (safe haven), emas diperkirakan masih menjadi pilihan investor saat ketidakpastian global meningkat. Namun, gangguan pasokan dan kebijakan perdagangan internasional berpotensi menciptakan volatilitas harga yang lebih tinggi di pasar dunia. (KSC)







