Perang Thailand-Kamboja Meletus: 14 Tewas, Jet Tempur F-16 Dikerahkan, Dunia Internasional Bereaksi

AS dan Malaysia Desak Gencatan Senjata dalam Konflik Kamboja–Thailand, Serukan Perlindungan Warga Sipil
Peta google Maps

Perang di perbatasan Thailand dan Kamboja pecah! 14 orang tewas, ratusan luka-luka, jet tempur dikerahkan, dan dunia internasional mulai bereaksi. Apa penyebabnya?

KLIKSUMUT.COM | BANGKOK – Ketegangan lama akhirnya meledak menjadi konflik bersenjata terbuka antara Thailand dan Kamboja. Pertempuran sengit di sepanjang wilayah perbatasan timur yang dipersengketakan menelan korban jiwa dan memicu keprihatinan dunia internasional.

Hingga Kamis (24/7/2025), Thailand melaporkan sedikitnya 14 orang tewas, termasuk 13 warga sipil dan 1 tentara, dalam serangan roket dan artileri yang disebut-sebut dilancarkan oleh pasukan Kamboja.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Ketidakpastian Perang Dagang dan Kebijakan The Fed

Bentrok berdarah ini berpusat di sekitar kompleks kuil Hindu Khmer Ta Muen Thom, kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi titik panas perselisihan perbatasan kedua negara.

Menurut militer Thailand, konflik bermula ketika pasukan Kamboja melepaskan tembakan lebih dulu, menggunakan drone pengintai, dan meluncurkan serangan artileri berat. “Pasukan udara kami telah melakukan serangan udara ke target-target militer di Kamboja,” ungkap Wakil Juru Bicara Militer Thailand, Richa Suksuwanon, kepada media asing.

Jet tempur F-16 dikerahkan, dan satu di antaranya menjatuhkan bom yang menghancurkan fasilitas militer di wilayah Kamboja.

Kamboja Bantah, Tuding Thailand Langgar Kedaulatan

Namun, Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja membantah keras tudingan itu. Dalam pernyataan resminya, Kamboja menuduh militer Thailand yang justru melanggar kedaulatan negaranya.

“Pasukan kami hanya merespons dalam konteks membela diri setelah adanya infiltrasi dari pasukan Thailand,” tegas pernyataan tersebut.

Mantan Perdana Menteri Kamboja yang berpengaruh, Hun Sen, menyebut dua provinsi di Kamboja menjadi sasaran serangan artileri dari Thailand. Sedangkan Perdana Menteri saat ini, Hun Manet, menegaskan bahwa pihaknya selalu mengedepankan jalan damai. “Namun kali ini, kami tidak punya pilihan selain membalas secara bersenjata,” ujarnya secara daring.

Rumah Sakit Dihantam, 40 Ribu Orang Mengungsi

Situasi kian memanas setelah rumah sakit di Provinsi Surin, Thailand, dihantam peluru artileri. Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin, menyebut insiden itu sebagai kejahatan perang.

Sebanyak lebih dari 40.000 warga dari 86 desa telah dievakuasi dari wilayah perbatasan. Rekaman CCTV yang beredar menunjukkan warga sipil berlindung di bawah bangunan beton, sementara ledakan terdengar bertubi-tubi.

Hingga saat ini, 14 tentara dan 32 warga sipil luka-luka akibat pertempuran di enam titik sepanjang garis perbatasan.

Eskalasi Dipicu Ledakan Ranjau dan Kematian Tentara

Konflik ini memperparah ketegangan yang sempat meningkat sejak Mei 2025, saat seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak. Situasi makin memanas setelah lima tentara Thailand terluka oleh ranjau darat pada Rabu (23/7/2025), yang merupakan insiden kedua dalam sepekan.

Pemerintah Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau baru, namun Kamboja menyatakan bahwa ranjau tersebut adalah sisa konflik lama, dan militer Thailand telah keluar dari jalur patroli yang disepakati.

Thailand Tarik Dubes dan Tutup Perbatasan

Sebagai langkah diplomatik, Thailand menarik pulang duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok. Seluruh pos lintas batas di bawah yurisdiksi Angkatan Darat Kedua diperintahkan untuk ditutup.

“Wisatawan dilarang keras memasuki area konflik,” tegas pernyataan Partai Pheu Thai, partai penguasa Thailand saat ini.

Reaksi Dunia: China, ASEAN, dan PBB Bersuara

Konflik ini tak luput dari sorotan dunia internasional. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan de-eskalasi.

“China akan terus mempromosikan perdamaian melalui dialog,” ucap Guo.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang juga menjabat sebagai Ketua ASEAN, turut mendesak kedua negara untuk menahan diri dan menghindari konflik berkepanjangan.

Gejolak Politik di Thailand

Di tengah situasi genting ini, krisis politik dalam negeri Thailand ikut memburuk. Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra telah diskors sejak 1 Juli karena dugaan pelanggaran etika dalam menangani sengketa perbatasan.

Bocoran percakapannya dengan Hun Sen yang viral di media sosial memicu tudingan bahwa ia terlalu lemah menghadapi Kamboja. Paetongtarn membela diri dengan mengatakan bahwa ia hanya berupaya mencari solusi damai.

BACA JUGA: Ekonomi Israel Runtuh Akibat Perang 12 Hari dengan Iran, Kerugian Capai USD 20 Miliar

Warisan Konflik Lama

Perang perbatasan ini mengingatkan kembali pada konflik antara 2008–2011, yang menewaskan sedikitnya 34 orang dan memaksa ribuan lainnya mengungsi. Sengketa ini berakar dari perbedaan klaim peta warisan kolonial Prancis, mencakup 817 km garis perbatasan antara Thailand dan Kamboja.

Hingga kini, situasi di lapangan masih terus berkembang. Kedua belah pihak bersikukuh bahwa mereka hanya bertindak membela diri. Namun korban jiwa terus bertambah, dan dunia menanti langkah nyata untuk mengakhiri konflik berdarah ini sebelum meluas menjadi krisis kawasan. (KSC)

Pos terkait