Ekonomi Israel Runtuh Akibat Perang 12 Hari dengan Iran, Kerugian Capai USD 20 Miliar

Iran Balas Serangan AS, Hujani 27 Rudal ke Israel: Tel Aviv dan Haifa Alami Kerusakan Parah
Foto: Serangan rudal Iran memborbardi Israel, kali ini sasarannya adalah Israel Selatan. Pukul 10.05 WIB dilaporkan bahwa serangan rudal menghantam Beersheba, Israel Selatan. Menyebabkan kebakaran beberapa unit kendaraan yang terparkir di luar gedung, gumpalan asap hitam tebal di lokasi serangan rudal Iran di Israel. (Tangkapan layar Tangkapan layar X/@Mdais)

Biaya perang yang membengkak, ribuan bangunan rusak, dan guncangan pasar membuat ekonomi Israel terjerembab dalam krisis serius.

KLIKSUMUT.COM | ISRAEL – Perang 12 hari antara Israel dan Iran tak hanya menyisakan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa, tetapi juga memukul telak fondasi ekonomi Israel. Negara itu kini menghadapi defisit anggaran yang menganga, kerugian miliaran dolar, hingga ketidakpastian pertumbuhan ekonomi ke depan.

Menurut Financial Express, pada minggu pertama konflik saja, Israel menghabiskan sekitar USD5 miliar, dengan biaya harian perang mencapai USD725 juta. Rinciannya, sekitar USD593 juta digunakan untuk serangan militer, dan USD132 juta untuk pertahanan dan mobilisasi. Sementara itu, The Wall Street Journal memperkirakan, biaya sistem antirudal harian bisa mencapai USD200 juta, tergantung intensitas serangan.

BACA JUGA: Iran Balas Serangan AS, Hujani 27 Rudal ke Israel: Tel Aviv dan Haifa Alami Kerusakan Parah

Jika perang berlangsung selama satu bulan, total kerugian diperkirakan bisa menembus USD12 miliar, berdasarkan kajian dari Aaron Institute for Economic Policy. Namun, analis keuangan Palestina, Naser Abdelkarim, menilai bahwa dampak tidak langsung terhadap produktivitas dan stabilitas ekonomi Israel bisa membuat kerugian itu membengkak hingga USD20 miliar.

1. Defisit Anggaran Membengkak, Belanja Publik Terancam

Abdelkarim, yang juga dosen di Universitas Amerika Palestina, menyebut bahwa defisit anggaran Israel berpotensi meningkat hingga 6%, didorong oleh kebutuhan kompensasi untuk ribuan warga terdampak. Pemerintah Israel kini dihadapkan pada tiga opsi pahit: pemotongan anggaran publik (termasuk sektor kesehatan dan pendidikan), kenaikan pajak, atau menggantungkan diri pada pinjaman, yang dikhawatirkan akan membuat rasio utang publik membengkak hingga di atas 75% dari PDB.

Situasi ini makin genting setelah Kementerian Keuangan Israel mengajukan permintaan tambahan dana USD857 juta untuk Kementerian Pertahanan, sambil memangkas anggaran USD200 juta dari sektor-sektor vital lainnya.

2. Ribuan Bangunan Rusak dan Warga Mengungsi

Menurut Otoritas Pajak Israel, lebih dari 36.000 warga telah mengajukan klaim kompensasi atas kerusakan properti. Sedikitnya 10.000 warga Israel dilaporkan mengungsi dari rumah mereka selama minggu pertama konflik.

Dana militer yang meningkat tajam juga diperuntukkan bagi mobilisasi besar-besaran 450.000 pasukan cadangan, yang semakin membebani APBN negara.

Sementara itu, nilai tukar shekel sempat melemah hingga 3,7 terhadap dolar AS, sebelum pulih ke level 3,5. Pemulihan ini, menurut para analis, didorong oleh faktor eksternal seperti pelemahan dolar global dan transaksi spekulatif jangka pendek.

3. Ekonomi Tersendat: Pengangguran dan Kemiskinan Mengintai

Konflik yang meluas juga menghantam sektor industri dan logistik. Infrastruktur strategis di Tel Aviv dan Haifa menjadi sasaran rudal Iran, termasuk kilang minyak Bazan, yang kerusakannya menyebabkan kerugian harian USD3 juta.

Bandara internasional utama Israel, Ben Gurion, juga sempat ditutup total, mengakibatkan pembatalan dan pengalihan ratusan penerbangan. Maskapai nasional El Al bahkan menghentikan seluruh operasi komersial untuk menghindari ancaman rudal. Salah satu penerbangannya ke Paris bahkan dialihkan ke Siprus, dan penerbangan ke Bangkok mendarat darurat di Roma.

Akibatnya, aktivitas ekonomi Israel melambat signifikan. Para ekonom memperingatkan kemungkinan lonjakan pengangguran, peningkatan kemiskinan, dan resesi teknis jika konflik kembali meletus atau berkepanjangan.

4. Bursa Berlian dan Pasar Saham Terpukul

Serangan rudal Iran juga menghantam kawasan Bursa Berlian Israel, yang menyumbang sekitar 8% dari ekspor nasional. Serangan tersebut memicu kepanikan di pasar modal, dengan aksi jual besar-besaran yang menekan indeks saham dan mengancam stabilitas keuangan jangka pendek.

Menurut laporan Institut Berlian Israel, dampak psikologis dari serangan ini memicu ketakutan investor dan menambah tekanan terhadap pasar domestik yang sudah rapuh akibat ketegangan geopolitik.

5. Gencatan Senjata Rawan Dilanggar

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran akhirnya menyetujui gencatan senjata total, yang mulai berlaku pada Selasa pukul 04.00 GMT. Namun, ketegangan belum mereda. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, justru memerintahkan serangan lanjutan ke Teheran, menuding Iran melanggar kesepakatan.

Sebagai respons, Iran menembakkan rentetan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar. Insiden ini terjadi hanya sehari setelah AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Iran Balas Serangan AS, Hujani 27 Rudal ke Israel: Tel Aviv dan Haifa Alami Kerusakan Parah

Sejak konflik memuncak pada 13 Juni, korban jiwa terus meningkat: setidaknya 25 warga Israel tewas dan ratusan terluka. Di pihak Iran, 430 orang tewas dan lebih dari 3.500 lainnya terluka, menurut data Kementerian Kesehatan Iran.

Krisis ini menunjukkan bahwa konflik militer berskala besar di era modern bukan hanya soal kekuatan militer, tetapi juga soal ketahanan ekonomi. Israel, yang selama ini dikenal kuat dalam sektor teknologi dan inovasi, kini dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa perang bukan hanya melemahkan musuh, tetapi bisa menghancurkan diri sendiri secara ekonomi. (KSC)

Pos terkait