Nosstress, Band Indie Akustik Bali yang Konsisten Suarakan Isu Sosial dan Lingkungan

Nosstress, Band Indie Akustik Bali yang Konsisten Suarakan Isu Sosial dan Lingkungan
Nosstress menjadi salah satu grup musik indie paling berpengaruh dari Bali yang dikenal lewat lagu-lagu sederhana, menenangkan, namun sarat pesan sosial dan kemanusiaan.

KLIKSUMUT.COMNosstress menjadi salah satu grup musik indie paling berpengaruh dari Bali yang dikenal lewat lagu-lagu sederhana, menenangkan, namun sarat pesan sosial dan kemanusiaan.

Grup musik akustik ini digawangi oleh Man Angga dan Guna Warma atau yang akrab disapa Kupit. Sejak awal kemunculannya, Nosstress dikenal membawa nuansa folk dan blues khas Bali dengan lirik reflektif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Tak hanya soal cinta atau kehidupan personal, Nosstress juga konsisten mengangkat isu lingkungan, sosial-politik, hingga kemanusiaan melalui karya-karyanya.

Perjalanan Nosstress bermula pada tahun 2006 saat grup bernama Crocourt Acoustic dibentuk oleh tujuh orang sahabat yang gemar bermain musik bersama sejak SMA.

Awalnya mereka hanya membawakan lagu cover dalam format akustik. Namun sekitar tahun 2008, grup tersebut mulai serius menekuni musik independen.

Seiring waktu, formasi band menyisakan tiga personel yakni Tjokorda Bagus, Man Angga, dan Guna Warma. Nama “Nosstress” sendiri diusulkan oleh Tjokorda Bagus pada tahun 2008.

Penampilan perdana mereka sebagai Nosstress digelar di Bali Seamen’s Club sebelum akhirnya rutin tampil di berbagai bar dan kafe di kawasan Sanur, Bali.

Dalam perjalanan kariernya, Nosstress banyak belajar dari komunitas sosial seperti One Dollar For Music dan Komunitas Taman 65.

Pengalaman tersebut membentuk identitas musik Nosstress yang tak hanya menghadirkan harmoni akustik, tetapi juga pesan-pesan kritis mengenai kondisi sosial masyarakat dan lingkungan.

Pada tahun 2009, Nosstress mulai fokus menciptakan lagu orisinal dengan warna folk khas Bali yang kemudian menjadi ciri kuat mereka hingga sekarang.

Tanggal 10 Januari 2011 menjadi tonggak penting bagi Nosstress setelah merilis album perdana bertajuk Perspektif Bodoh, Vol. 1.

Album yang dirilis melalui Antida Studio tersebut memadukan genre folk, blues, dan pop akustik dengan lirik yang mengangkat kritik sosial serta kepedulian lingkungan.

BACA JUGA: No Na, Girl Group Indonesia Besutan 88rising yang Go Internasional dengan Sentuhan R&B dan Budaya Nusantara

“Kami bermain dengan kelembutan bunyi akustik, menenangkan otak, melayangkan imajinasi,” ujar Man Angga mengenai konsep musik Nosstress.

Album ini mendapat sambutan hangat dari penikmat musik indie Indonesia karena dianggap menghadirkan warna berbeda di tengah dominasi musik populer saat itu.

Popularitas Nosstress terus meningkat hingga membawa mereka menjalani tur Eropa bertajuk “From Bali to Europe” pada 2014.

Dalam tur tersebut, Nosstress tampil di berbagai festival dan kafe di sejumlah negara Eropa sambil memperkenalkan musik folk Bali kepada publik internasional.

Di tahun yang sama, Nosstress turut terlibat dalam album kompilasi Bali Bergerak bersama Superman Is Dead dan Navicula untuk menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Lagu “Endonesya, Begitu Katanya” menjadi salah satu karya kritik sosial paling kuat dari Nosstress pada periode tersebut.

Pada 2017, Nosstress merilis album unik bertajuk Ini Bukan Nosstress.

Konsep album ini berbeda dari karya sebelumnya karena setiap lagu dinyanyikan langsung oleh penulisnya seperti proyek solo.

Namun pada 24 November 2020, Tjokorda Bagus memutuskan keluar dari Nosstress karena alasan pribadi. Keputusan itu menjadi momen emosional bagi perjalanan grup musik tersebut.

Tak lama kemudian, Nosstress merilis lagu “Terima Kasih” sebagai bentuk apresiasi kepada para pendengar sekaligus penanda resmi perpisahan dengan Tjok Bagus.

Pada 14 Juli 2021, Nosstress merilis album digital bertajuk Istirahat.

Album ini terinspirasi dari situasi pandemi Covid-19 yang membuat dunia seolah “berhenti sejenak”. Tema tersebut diambil dari singel “Istirahat” yang sebelumnya dirilis pada 2019 sebagai bentuk penghormatan terhadap Hari Nyepi di Bali.

BACA JUGA: Nineball: Perjalanan Band Pop Rock Indonesia dengan Lagu Legendaris “Hingga Akhir Waktu”

Meski sudah keluar dari grup, Tjokorda Bagus masih terlibat sebagai musisi pendukung dalam album tersebut karena proses rekaman telah dilakukan sebelum dirinya mundur.

Di tengah industri musik yang terus berubah, Nosstress tetap konsisten mempertahankan identitas mereka sebagai grup musik independen dengan karya penuh makna.

Lagu-lagu mereka tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi bagi pendengarnya mengenai kehidupan, alam, hingga persoalan sosial di sekitar.

Dengan pendekatan musik yang sederhana namun emosional, Nosstress berhasil membangun basis pendengar loyal dan menjadi salah satu ikon musik indie folk dari Bali dan Indonesia. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait