Letto: Band Asal Yogyakarta yang Melahirkan Lagu-Lagu Ikonik Indonesia

Letto: Band Asal Yogyakarta yang Melahirkan Lagu-Lagu Ikonik Indonesia
Nama Letto sudah lama dikenal sebagai salah satu grup musik Indonesia yang konsisten menghadirkan karya penuh makna. Band yang terbentuk pada 21 April 2004 ini berasal dari Yogyakarta dan memiliki perjalanan karier yang menarik untuk disimak.

KLIKSUMUT.COMNama Letto sudah lama dikenal sebagai salah satu grup musik Indonesia yang konsisten menghadirkan karya penuh makna. Band yang terbentuk pada 21 April 2004 ini berasal dari Yogyakarta dan memiliki perjalanan karier yang menarik untuk disimak.

Letto digawangi oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe sebagai vokalis, Agus Riyono (gitar), Ari Prastowo (bass), serta Dedi Riyono (drum). Keempatnya merupakan sahabat sejak masa sekolah di SMU 7 Yogyakarta yang kemudian kembali dipertemukan oleh musik setelah sempat berpisah karena kesibukan kuliah.

Bacaan Lainnya

Menariknya, Noe merupakan putra dari budayawan ternama Emha Ainun Nadjib, yang turut memberi warna tersendiri dalam lirik-lirik puitis Letto.

Letto memulai debutnya pada 2004, dan langsung mencuri perhatian publik lewat album pertama mereka, Truth, Cry, and Lie yang dirilis pada 2005. Album ini melahirkan sejumlah lagu hits seperti Sandaran Hati, Ruang Rindu, dan Sampai Nanti, Sampai Mati.

Kesuksesan album ini membawa Letto meraih penghargaan “Album Pendatang Baru” di ajang SCTV Music Awards 2007. Tak hanya di Indonesia, popularitas mereka juga merambah Malaysia hingga Singapura, bahkan meraih penghargaan di ajang Anugerah Planet Muzik 2007.

BACA JUGAGIGI, Legenda Musik Indonesia: Perjalanan Penuh Warna dari Tawa, Persahabatan hingga Perubahan Formasi

Kesuksesan berlanjut lewat album kedua, Don’t Make Me Sad, yang dirilis pada 2007. Lagu Sebelum Cahaya menjadi andalan dengan konsep video klip yang unik dan menyentuh.

Album ini juga menunjukkan sisi sosial Letto, di mana sebagian hasil penjualannya didedikasikan untuk pembuatan buku huruf Braille. Selain itu, Letto mulai mengeksplorasi berbagai tema, termasuk lagu religi dan bahasa Inggris.

Pada 2009, Letto merilis album ketiga Lethologica dengan lagu populer seperti Lubang di Hati, Senyumanmu, dan Kepada Hati Itu.

Meski tetap mempertahankan ciri khas mereka, Letto sempat mengalami masa vakum sekitar satu tahun setelah perilisan album ini.

Pada 2016, Letto memperluas formasi dengan menambahkan Cornel sebagai gitaris dan Widi sebagai keyboardis. Kehadiran personel baru ini memberi warna segar dalam perjalanan musik mereka.

BACA JUGA: ST12: Kisah Perjalanan Band Pop Melayu Legendaris dari Bandung

Letto kemudian merilis album keempat Cinta, Bersabarlah…, yang menjadi simbol kembalinya mereka setelah sempat vakum. Album ini juga menandai perubahan dengan tidak lagi menyertakan lagu berbahasa Inggris.

Popularitas lagu Letto juga merambah dunia literasi. Lagu Ruang Rindu diadaptasi menjadi novel (songlit) oleh Andi Eriawan. Selain itu, karya mereka juga disebut-sebut menginspirasi film Till Death Do Us Part garapan Anggy Umbara.

Hingga kini, Letto tetap dikenang sebagai band yang menghadirkan musik dengan lirik mendalam dan nuansa khas. Lagu-lagu mereka tidak hanya populer, tetapi juga memiliki pesan emosional yang kuat dan relevan bagi berbagai generasi. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait