ST12: Kisah Perjalanan Band Pop Melayu Legendaris dari Bandung

ST12: Kisah Perjalanan Band Pop Melayu Legendaris dari Bandung
ST 12

KLIKSUMUT.COM – Tak banyak band di Indonesia yang mampu mempertahankan eksistensi di tengah badai perpecahan, perubahan formasi, hingga gempuran tren musik baru. Namun, ST12 adalah pengecualian. Band pop rock melayu yang dibentuk di Bandung pada 20 Januari 2004 ini terus bertahan dan berkarya meski dihantam gelombang besar dalam perjalanannya.

Didirikan oleh Ilham Febry alias Pepep (drum), Dedy Sudrajat alias Pepeng (gitar), Muhammad Charly van Houten (vokal), dan Iman Rush (gitar/bass), ST12 mengambil nama dari markas mereka di Jalan Stasiun Timur No. 12, Bandung. Dari sanalah sejarah panjang penuh warna ini dimulai.

Di masa awal, keempat personel ST12 tidak saling mengenal. Pertemuan mereka di studio rental milik Pepep menjadi awal dari kerja sama musik yang luar biasa. Di tengah kesulitan mendapatkan label rekaman, ST12 memilih jalur independen dan merilis album perdana “Jalan Terbaik” pada 2006.

Namun, kisah sukses itu dibayangi duka. Saat promosi album di Semarang, Iman Rush meninggal dunia akibat pendarahan otak pada Oktober 2005. Tragedi ini meninggalkan luka mendalam, namun tidak mematahkan semangat mereka.

BACA JUGA: GIGI, Legenda Musik Indonesia: Perjalanan Penuh Warna dari Tawa, Persahabatan hingga Perubahan Formasi

Tahun 2008 menjadi titik balik ST12 lewat album “P.U.S.P.A” yang meledak di pasaran. Lagu-lagu seperti “Saat Terakhir”, “Jangan Pernah Berubah”, dan “P.U.S.P.A” sendiri menjadi anthem cinta anak muda Indonesia kala itu. Popularitas mereka bahkan menembus Malaysia.

Namun, di tengah popularitas itu, perpecahan tak terhindarkan. Pada tahun 2011, Charly dan Pepeng resmi keluar dari ST12 karena perbedaan visi bermusik dan konflik kontrak dengan label.

Meski ditinggal dua pendiri utamanya, ST12 tidak bubar. Pepep memutuskan melanjutkan ST12 dengan menggandeng formasi baru. Ridho Tuah masuk sebagai vokalis, disusul Koko (gitar) dan Indra (bass).

Bacaan Lainnya

Kesuksesan ST12 berlanjut di Malaysia lewat album “Lentera Hati” (2013). Lagu “Putih Putih Melati” menjadi hits besar, bahkan meraih 16x Platinum Awards dengan lebih dari 4 juta unduhan digital.

Pada 2019, para penggemar sempat bersuka cita saat Charly, Pepeng, dan Pepep reuni dan merilis single “Jangan Marah-Marah.” Namun, proyek tersebut tak berlanjut karena masalah kontrak.

BACA JUGA: Stinky Band Legendaris Tahun 90-an

Kini, ST12 tetap melaju dengan formasi baru: Pepep (drum), Indra (bass), dan Aris Idol sebagai vokalis. Mereka masih aktif merilis lagu dan tampil di berbagai panggung musik tanah air.

ST12 bukan sekadar band pop melayu. Mereka adalah simbol keteguhan, konsistensi, dan cinta terhadap musik. Dari studio kecil di Bandung hingga panggung megah di Kuala Lumpur, ST12 telah menorehkan sejarah panjang yang tak terlupakan. (KSC)

Pos terkait