KLIKSUMUT.COM – Industri musik metal Indonesia memiliki banyak nama besar, namun sedikit yang mampu mempertahankan eksistensi selama puluhan tahun. Salah satu yang paling konsisten adalah JASAD, band death metal asal Bandung yang telah menjadi ikon skena ekstrem tanah air sejak awal 1990-an.
Dikenal dengan musik brutal, lirik yang kuat, serta identitas budaya yang kental, JASAD berhasil menempatkan diri sebagai salah satu band death metal paling berpengaruh di Indonesia.
Band JASAD dibentuk pada tahun 1990 di Bandung oleh bassis Yuli. Nama “Jasad” sendiri berasal dari bahasa Indonesia yang berarti “badan” atau tubuh. Hingga saat ini, Yuli menjadi satu-satunya personel original yang masih bertahan di band tersebut.
Pada masa awal perjalanan mereka, JASAD sebenarnya sudah memiliki sejumlah materi lagu. Namun sebagian besar rekaman tersebut hilang karena berbagai alasan. Meski begitu, semangat band ini tidak pernah surut.
Titik awal perjalanan rekaman mereka dimulai pada tahun 1996 dengan merilis EP pertama berjudul “C’est La Vie” melalui label independen lokal Bandung, Palapa Records.
Perjalanan JASAD semakin serius ketika vokalis Man dan gitaris Ferly bergabung pada tahun 1999. Formasi ini dilengkapi oleh drummer Dani Papap serta bassis Yuli.
Line-up tersebut kemudian menjadi formasi solid yang bertahan hingga 2011.
Pada tahun 2001, JASAD merilis album penuh pertama mereka berjudul “Witness of Perfect Torture” melalui Rottrevore Records. Album ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan death metal Indonesia.
BACA JUGA: Jamrud: Dari Jamrock Hingga Jadi Legenda Rock Indonesia
Di tahun yang sama, mereka juga merilis demo “Ripping The Pregnant”, kemudian disusul “Demo 2005” pada tahun 2005.
Tahun 2005 menjadi momentum berikutnya bagi JASAD dengan dirilisnya album kedua “Annihilate The Enemy” melalui label Sevared Records.
Album ini memperkuat reputasi mereka di skena death metal internasional, sekaligus memperluas jangkauan pendengar band asal Bandung tersebut.
Pada tahun 2006, JASAD ikut ambil bagian dalam DVD kompilasi “Rottrevore Death Fest”. DVD ini menampilkan empat band metal Indonesia, yaitu: JASAD, Siksakubur, Forgotten dan Disinfected
Proyek ini menjadi salah satu dokumentasi penting bagi perkembangan musik metal ekstrem Indonesia.
Namun pada tahun 2011, drummer Dani Papap memutuskan keluar dari band setelah 12 tahun bersama. Posisi drummer kemudian digantikan oleh Abaz.
Dengan formasi baru, JASAD merilis album ketiga berjudul “Rebirth of Jatisunda” pada tahun 2013 melalui Extreme Souls Production.
Album ini memiliki karakter yang berbeda dibanding dua album sebelumnya. Jika sebelumnya banyak menggunakan lirik bahasa Inggris, Rebirth of Jatisunda menghadirkan kombinasi bahasa: Indonesia, Sunda dan Inggris.
BACA JUGA: Duel Memasak Sengit, Bunga dan Stephani Bersaing di Grand Final MasterChef Indonesia
Pendekatan ini memperlihatkan identitas budaya lokal yang lebih kuat dalam musik brutal khas JASAD.
Selama lebih dari tiga dekade, JASAD telah menjadi salah satu pionir death metal Indonesia. Konsistensi mereka dalam merilis karya, tampil di berbagai panggung, serta membawa unsur budaya lokal menjadikan band ini tetap relevan hingga sekarang.
Bagi penggemar musik metal ekstrem, nama JASAD bukan sekadar band, tetapi juga simbol perjalanan panjang skena death metal Indonesia. (KSC)
TIM REDAKSI








