KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi membuat investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman. Dalam situasi gejolak pasar seperti sekarang, dua instrumen yang mencuat sebagai lindung nilai (safe haven) utama adalah logam mulia terutama emas dan mata uang yen Jepang.
Harga emas dunia saat ini tengah melesat, didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap dampak kebijakan tarif tinggi Presiden Donald Trump terhadap ekonomi Amerika Serikat. Berdasarkan data dari firstonline.info, harga emas tercatat sempat menyentuh US$3.128,06 per ons, mengalami lonjakan lebih dari 18% sepanjang kuartal kenaikan tertinggi sejak September 1986.
BACA JUGA: Jumlah Investor Kripto RI Tembus 13,71 Juta per Maret 2025, Diproyeksi Capai 28 Juta Akhir Tahun
Kenaikan harga emas ini turut mendorong harga logam mulia lainnya seperti perak, paladium, dan platinum. Tiga bank investasi besar dunia Goldman Sachs, Bank of America (BofA), dan UBS kompak menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun ini dan tahun depan.
Proyeksi Emas Terbaru dari Bank Terkemuka
– Goldman Sachs: Harga emas diprediksi tembus US$3.300 per ons di akhir 2025 (naik dari proyeksi sebelumnya US$3.100).
– Bank of America: Emas diperkirakan mencapai US$3.063 di 2025 dan melonjak ke US$3.350 pada 2026.
Lonjakan harga ini menjadi sinyal kuat bahwa investor institusi dan bank sentral dunia kini memborong emas sebagai upaya mitigasi risiko dari tekanan ekonomi global.
Yen Jepang: Alternatif Aman Selain Emas
Tak hanya emas, yen Jepang juga mulai dilirik sebagai aset pelindung nilai. Goldman Sachs bahkan menyebut yen sebagai “safe haven utama” di tengah meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi AS. Mereka memproyeksikan nilai tukar yen akan menguat hingga 140 per dolar AS tahun ini mengindikasikan potensi penguatan sekitar 7% dari posisi saat ini yang berada di kisaran 150.
Menurut Kamakshya Trivedi, Kepala Strategi Global Goldman Sachs, yen menjadi pilihan ideal saat suku bunga riil dan pasar saham AS mengalami tekanan. Ini menjadikan yen sebagai opsi menarik bagi investor yang ingin mengantisipasi risiko ekonomi Negeri Paman Sam.
Trivedi juga menilai, pergerakan yen akan sangat dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan AS. Dalam pandangannya, pelemahan pasar tenaga kerja akan memicu permintaan terhadap yen, karena investor cenderung memilih mata uang itu dalam kondisi perlambatan ekonomi.
Kebijakan BoJ dan Fed Jadi Sorotan
Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) tengah mempersiapkan langkah pengetatan kebijakan moneter. Banyak ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya akan dilakukan pada Juni atau Juli 2025, seiring rilis panduan inflasi terbaru dan lonjakan harga kebutuhan pokok yang menekan masyarakat Jepang.
Sementara itu, The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini, setelah sebelumnya hanya diperkirakan dua kali. Revisi ini muncul karena kekhawatiran bahwa tarif tinggi Trump akan memperlambat ekonomi AS secara signifikan.
Tekanan pada Pasar Saham AS dan Potensi Koreksi
Goldman Sachs juga memangkas target indeks S&P 500, mencerminkan ketidakpastian pasar modal akibat potensi perlambatan ekonomi. Situasi ini membuat banyak investor menahan diri dari aset-aset berisiko dan kembali fokus ke aset safe haven seperti emas dan yen.
Risiko Tetap Ada, Tapi Momentum Yen Menguat
Meski yen Jepang punya daya tarik tinggi, risiko tetap ada. Yen sempat melemah ke level 161,95 per dolar AS pada Juli lalu, titik terendah dalam hampir 40 tahun terakhir, karena perbedaan suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang. Namun, tekanan tersebut mulai mereda. Posisi jual yen oleh hedge fund mulai menyusut pada 2025 ini, dan pasar memperkirakan nilai tukar dolar-yen akan turun lebih lanjut seiring rencana BoJ untuk mengurangi pembelian obligasi jangka panjang.
BACA JUGA: Harga Emas Dunia Terjun Bebas ke Level Terendah Sebulan, Investor Kabur ke Saham
Kondisi pasar global yang penuh ketidakpastian telah mendorong para investor beralih ke instrumen lindung nilai, dengan emas dan yen Jepang menjadi primadona. Sementara emas terus mencetak rekor tertinggi, yen mulai memperlihatkan kekuatan sebagai aset safe haven alternatif, terutama dalam konteks potensi pelemahan ekonomi Amerika Serikat akibat kebijakan tarif dan ketidakpastian suku bunga.
Bagi investor retail maupun institusi, memahami dinamika ini penting dalam menentukan arah investasi ke depan. Kombinasi antara strategi konservatif dan monitoring kebijakan global menjadi kunci untuk melewati fase ekonomi yang tidak stabil ini. (KSC)







