Harga Emas Dunia Terjun Bebas ke Level Terendah Sebulan, Investor Kabur ke Saham

Harga Emas Melemah Sementara, Rekor Tertinggi Dunia Pecah: Investor Semakin Optimis Emas Tembus US$3.500 per Troy Ons
Foto: emas gold. (CNBC)

Emas kehilangan kilau saat optimisme ekonomi AS dan China meningkat

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Harga emas dunia merosot tajam dan menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir. Pada perdagangan Rabu (14/5/2025), harga emas anjlok 2,15% ke posisi US$3.177,55 per troy ons, jauh di bawah level psikologis US$3.200 yang selama ini menjadi batas penting bagi investor global.

Kemerosotan harga emas ini terjadi seiring dengan meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Kedua negara ekonomi terbesar dunia itu sepakat untuk memangkas tarif impor secara drastis, memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan global dan membuat investor mulai meninggalkan aset safe haven seperti emas.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Anjlok Usai Trump Klaim Negosiasi dengan China Bersahabat, Perang Dagang Mulai Mencair

Investor Beralih ke Aset Berisiko, Saham Menguat

Kesepakatan antara Washington dan Beijing yang menetapkan masa jeda 90 hari untuk pengurangan tarif memicu reli di pasar saham. Indeks utama Wall Street menguat selama dua hari berturut-turut, menandakan peralihan minat investor dari emas ke instrumen yang lebih berisiko.

“Penurunan tajam harga emas dipicu oleh meredanya ketegangan tarif AS-China,” ujar Tai Wong, pedagang logam independen kepada Reuters. “Investor mulai merasa nyaman untuk kembali ke pasar saham.”

Trump dan Xi Jinping Beri Angin Segar pada Perdagangan Global

Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam wawancara pada Selasa (13/5/2025) bahwa ia berkomunikasi langsung dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menyusun detail kesepakatan dagang. Trump juga mengungkap adanya potensi kesepakatan serupa dengan India, Jepang, dan Korea Selatan.

Pada Senin (12/5/2025), kedua negara menyetujui pemangkasan tarif impor: AS memangkas bea atas produk China menjadi 30% dari sebelumnya 145%, sementara China menurunkan tarif impor barang AS menjadi 10% dari 125%.

Harga Emas Naik Tipis Hari Ini, Tapi Tren Masih Bearish

Meski sempat rebound tipis 0,15% pada Kamis pagi (15/5/2025) ke level US$3.183,4 per troy ons, para analis menilai tren jangka pendek emas masih bearish.

“Target penurunan selanjutnya adalah US$3.136 per troy ons, bahkan bisa menyentuh US$3.000 dalam skenario koreksi lanjutan,” kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.

Goldman Sachs Pangkas Risiko Resesi, Optimisme Ekonomi Menguat

Goldman Sachs turut mendorong sentimen negatif terhadap emas dengan meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dan China. Lembaga keuangan global itu memperkirakan PDB China akan tumbuh 4,6% tahun ini dan 3,8% pada 2026. Untuk AS, peluang resesi dalam 12 bulan dipangkas menjadi 35% dari 45%, dengan revisi naik pada proyeksi PDB kuartal IV menjadi 1,0%.

“Pertumbuhan ekonomi yang kuat membuat investor lebih tertarik pada aset-aset yang bisa menghasilkan return tinggi, seperti saham,” tambah Razaqzada.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Anjlok 2,72%, Sinyal Damai Dagang AS-China Ubah Arah Pasar

Arah Kebijakan The Fed Dinanti, Data Inflasi Jadi Sorotan

Para pelaku pasar kini menanti rilis data indeks harga produsen (PPI) AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Jika suku bunga tetap rendah, emas mungkin masih punya daya tarik sebagai lindung nilai. Namun untuk saat ini, sentimen pasar tampaknya lebih berpihak pada aset berisiko.

Emas Tertekan oleh Angin Segar Ekonomi Global

Dengan berkurangnya ketidakpastian geopolitik dan membaiknya prospek ekonomi AS-China, investor global mulai meninggalkan emas sebagai aset lindung nilai. Meskipun tren jangka panjang tetap positif, harga emas berpotensi menghadapi tekanan dalam waktu dekat, terutama jika pasar saham terus menguat. (KSC)

Pos terkait