KLIKSUMUT.COM – Garasi adalah grup musik Indonesia beraliran alternative rock yang terbentuk pada akhir 2005. Uniknya, perjalanan karier mereka tidak hanya dimulai dari panggung musik, tetapi juga dari layar lebar. Band ini langsung mencuri perhatian publik lewat film dan album yang dirilis secara bersamaan, menjadikan Garasi sebagai salah satu band dengan konsep debut paling berbeda di industri musik Tanah Air.
Saat ini, Garasi digawangi oleh Ayu Ratna (vokal), Fedi Nuril (gitar), Wembri Arlistha (bass), Aries Budiman (drum), dan Axel Andaviar (gitar). Namun perjalanan mereka menuju formasi tersebut penuh dinamika dan perubahan.
Nama Garasi melejit berkat film Garasi yang dirilis pada 2006. Film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Agung Sentausa. Konsepnya terbilang segar: mengangkat kisah sebuah band muda yang sedang merintis karier—dan band tersebut adalah Garasi sendiri.
Musik dalam film Garasi serta peran sebagai producer/programmer album digarap oleh Andy Ayunir. Album perdana mereka dirilis bersamaan dengan peluncuran film, menciptakan sinergi promosi yang kuat antara industri musik dan perfilman.
Proses pemasaran album ini turut melibatkan nama-nama besar seperti Indra Lesmana, Abdee Slank, dan Anang. Produksi dilakukan oleh Miles Films (PT Mira Lesmana Production Services/Miles Productions).
Pada awalnya, Garasi merupakan band trio yang terdiri dari: Ayu Ratna (vokal, gitar), Fedi Nuril (keyboard, gitar) dan Aries Budiman (drum)
Kisah terbentuknya Garasi juga tak lepas dari peran Indra Lesmana. Ayu Ratna sempat mengikuti audisi Indonesian Idol, namun tidak lolos. Meski demikian, bakat bermain gitarnya menarik perhatian Indra Lesmana yang kemudian merekomendasikannya kepada Mira Lesmana untuk proses casting film.
Aries Budiman dikenal sebagai drummer festival yang kerap menyabet gelar best drummer, sementara Fedi Nuril—yang sebelumnya dikenal sebagai aktor dan bintang iklan—dipercaya mengisi posisi keyboard sekaligus gitar.
BACA JUGA: Band Gallery: Perpaduan Ska dan Rock Alternatif yang Ikonik di Era 90-an
Berkah kembali menghampiri Garasi ketika mereka dipercaya tampil di Jepang pada 1 November 2007. Penampilan akustik tersebut dilakukan dalam rangka pemutaran film Garasi secara eksklusif di ajang NHK Asian Film Festival. Momen ini menjadi tonggak penting ekspansi internasional mereka.
Dua tahun setelah debut, Garasi merilis album kedua bertajuk Garasi II pada 7 Juli 2008. Album ini berisi 10 lagu dan 1 bonus track, dengan single hits “Tak Ada Lagi”.
Dalam album ini, Garasi mengeksplorasi sound digital rock dengan nuansa yang lebih mellow. Mereka mulai berkompromi dengan pasar tanpa meninggalkan identitas alternative rock yang menjadi ciri khas.
Awal 2009 menjadi titik balik penting. Ayu Ratna resmi mundur sebagai vokalis. Ketidakcocokan dan kesibukan di luar band disebut sebagai alasan utama. Untuk sementara, Fedi Nuril mengisi posisi vokal dalam berbagai penampilan off air sembari manajemen melakukan audisi vokalis baru.
Wembri Arlistha—yang sebelumnya terlibat sebagai additional bass untuk off air dan rekaman album sejak 2007—resmi menjadi personel tetap. Posisi vokal kemudian diisi oleh Higin Ayuga pada awal 2011.
Pada Agustus 2011, Garasi merilis album Kembali yang berisi 8 lagu dengan hits “Hidup Hanya Sekali” ciptaan Wembri dan Dimas Pandu. Album ini menghadirkan warna rock yang lebih fresh dan menjadi penanda formasi baru.
Namun kebersamaan dengan Higin Ayuga tidak berlangsung lama. Ia mengundurkan diri pada akhir 2013. Kehilangan vokalis untuk kedua kalinya tentu bukan hal mudah bagi Garasi.
Setelah berbagai dinamika, manajemen Garasi kembali menjalin komunikasi dengan Ayu Ratna (Aiu). Tercapailah kesepakatan kolaborasi yang kini dikenal dengan konsep Garasi & Aiu Ratna Reunion, yang dipasarkan untuk panggung-panggung off air.
BACA JUGA: Jamrud: Legenda Rock Cimahi yang Guncang Indonesia
Kembalinya Ayu menghadirkan nostalgia sekaligus energi baru bagi penggemar lama. Citra Ayu yang begitu melekat dengan identitas awal Garasi menjadi kekuatan tersendiri dalam menghidupkan kembali semangat band ini.
Garasi bukan sekadar band alternative rock biasa. Mereka adalah contoh sukses kolaborasi lintas industri—musik dan film—yang jarang terjadi di Indonesia. Dengan perjalanan lebih dari satu dekade, berbagai pergantian personel, hingga reuni emosional, Garasi tetap menjadi bagian penting dari sejarah musik rock Indonesia era 2000-an.
Dari garasi kecil hingga panggung internasional, kisah mereka membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana. (KSC)
TIM REDAKSI








