The Mercy’s: Legenda Musik Indonesia dari Medan yang Mendunia, Masih Hidup dalam Hati Penggemar

The Mercy's: Legenda Musik Indonesia dari Medan yang Mendunia, Masih Hidup dalam Hati Penggemar
The Mercy's

KLIKSUMUT.COM – Nama The Mercy’s mungkin sudah jarang terdengar di kalangan generasi muda saat ini, namun di era 1970-an, grup band asal Medan ini pernah merajai blantika musik Indonesia, bahkan nyaris menembus pasar internasional. Lagu-lagunya seperti Tiada Lagi, Hidupku Sunyi, hingga Untukmu, menjadi anthem anak muda pada zamannya dan masih dikenang hingga kini.

Grup yang awalnya bernama Watches ini dibentuk pada 3 Februari 1965 oleh Rizal Arsyad dan Erwin Harahap, sebelum kemudian berubah nama menjadi The Mercy’s terinspirasi dari merek mobil Mercedes-Benz yang kala itu dianggap mewah dan keren.

Perjalanan The Mercy’s bukanlah kisah instan. Mereka memulai dari panggung seni sekolah, studio ke studio, hingga manggung di klub malam Chusan Hotel di Penang, Malaysia. Formasi awalnya sempat beberapa kali berganti hingga akhirnya terbentuk tim solid dengan Charles Hutagalung, Rinto Harahap, Erwin Harahap, Reynold Panggabean, dan Albert Sumlang—formasi emas yang kemudian mencetak banyak hits.

Lagu “Tiada Lagi” ciptaan Charles menjadi titik balik karier mereka. Lagu ini pertama kali diputar di RRI Medan dan langsung menjadi lagu paling banyak diminta. Bahkan, frekuensinya menembus negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Tahun 1972 menjadi tahun keemasan The Mercy’s. Album debut mereka yang dirilis oleh Remaco dan Purnama Records langsung meledak di pasaran. Lagu-lagu seperti Tiada Lagi, Baju Baru, Love, hingga Kisah Seorang Pramuria menduduki tangga lagu radio-radio di seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: God Bless: Legenda Rock Indonesia yang Tak Lekang oleh Waktu, dari TIM ke Deep Purple hingga 50 Tahun Berkarya

Tak tanggung-tanggung, mereka meraih Golden Record atas penjualan jutaan kopi kaset dan piringan hitam. Bahkan, The Mercy’s dinobatkan sebagai “Band Kesayangan Indonesia” tahun 1972–1973 oleh Puspen ABRI.

The Mercy’s sempat mendapat tawaran tampil di Jepang dan Vietnam. Sayangnya, rencana mereka untuk manggung di Jepang gagal karena tertipu agen palsu. Sementara di Vietnam, mereka tampil di tengah kondisi perang yang genting—sebuah keberanian luar biasa demi memperkenalkan musik Indonesia ke dunia luar.

Namun dari masa sulit itulah, lahir lagu legendaris seperti “Tiada Lagi” yang diciptakan Charles saat berada di luar negeri.

Sepanjang kariernya, The Mercy’s telah merilis lebih dari 40 album dalam berbagai genre: Pop, Melayu, Keroncong, Rohani, bahkan lagu anak-anak. Mereka juga menerima 6 penghargaan Golden Record dan disebut sebagai bagian dari “The Big Five” band legendaris Indonesia bersama Koes Plus, Panbers, D’Lloyd, dan Favourite’s Group.

Gaya mereka yang nyentrik rambut gondrong, celana cutbray, baju warna-warni—juga menjadi ikon fashion anak muda zaman itu.

Seiring waktu, band ini mengalami pasang surut. Masalah internal, perbedaan visi, hingga kematian sejumlah anggota membuat eksistensi The Mercy’s perlahan memudar. Beberapa personel memilih bersolo karier, mendirikan band baru, atau terjun ke dunia bisnis musik.

Personel seperti Charles Hutagalung (2001), Albert Sumlang (2009), dan Rinto Harahap (2015) telah berpulang, menyisakan Erwin Harahap dan Reynold Panggabean sebagai dua personel yang masih hidup.

BACA JUGA: Kahitna dari Kafe ke Panggung Legendaris Musik Indonesia

Meski tak pernah menyatakan bubar secara resmi, The Mercy’s secara de facto sudah menyelesaikan kisahnya di industri musik tanah air.

Hingga kini, lagu-lagu The Mercy’s masih diputar di berbagai platform dan radio nostalgia. Karya mereka diakui sebagai bagian penting dari sejarah musik Indonesia. Tak sedikit generasi baru yang menemukan kembali karya-karya The Mercy’s melalui digital streaming, YouTube, atau bahkan cover dari musisi masa kini. (KSC)

Pos terkait