KLIKSUMUT.COM | INTERNASIONAL –Serangan udara Israel yang menewaskan sejumlah tokoh militer utama Iran telah mengguncang stabilitas internal Republik Islam tersebut. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86), kini menghadapi tekanan terbesar dalam kepemimpinannya setelah kehilangan para penasihat kepercayaannya.
Sejak serangan brutal yang dimulai pada Jumat (13/6/2025), Israel dilaporkan telah menargetkan dan membunuh beberapa elite Garda Revolusi Iran (IRGC). Di antara korban tewas adalah Komandan IRGC Hossein Salami, arsitek program rudal balistik Brigjen Amir Ali Hajizadeh, serta Kepala Intelijen Garda Revolusi Mohammad Kazemi.
Tidak hanya itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mohammad Bagheri serta Kepala Staf Perang Iran Jenderal Ali Shadmani juga dilaporkan tewas. Shadmani sendiri baru saja menggantikan Letjen Gholam Ali Rashid yang gugur dalam serangan Israel sebelumnya. Sumber internal menyebut Shadmani sebagai figur paling dekat dengan Khamenei.
BACA JUGA: BREAKING NEWS: Iran Hujani Israel dengan Rudal, Sirine Meraung di Seluruh Negeri
Kehilangan Pilar Strategis, Khamenei Terisolasi
“Serangan ini menimbulkan lubang besar dalam lingkaran dalam Khamenei. Risiko salah langkah dalam pengambilan keputusan sangat tinggi,” ungkap salah satu sumber kepada Reuters, Selasa (17/6/2025).
Sejak revolusi 1979, Khamenei telah menjadikan Garda Revolusi sebagai pilar utama dalam menjaga kekuasaan dan stabilitas dalam negeri. Kehilangan para tokoh strategis tersebut tidak hanya melemahkan struktur komando Garda, tetapi juga mengancam akses Iran ke sistem senjata canggih dan strategi pertahanan regional.
Garda Revolusi dan Ketegangan Iran-Israel Meningkat
Garda Revolusi, yang bertanggung jawab langsung kepada Khamenei, selama ini menjadi tulang punggung kebijakan luar negeri Iran, termasuk dukungan ke kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan milisi pro-Iran di kawasan Timur Tengah. Dengan hilangnya para komandan utama, kelangsungan operasi-operasi ini kini dipertanyakan.
Menurut pengamat Timur Tengah, Alex Vatanka dari Middle East Institute, Washington, situasi ini membuat Khamenei berada dalam posisi yang sangat sulit.
“Dua hal tentang Khamenei: dia sangat keras kepala, tapi juga sangat hati-hati. Itulah sebabnya dia bertahan lama. Tapi kali ini, situasinya benar-benar berbeda,” kata Vatanka.
Pengaruh Global dan Dampak Regional
Krisis yang terjadi bukan hanya memperdalam keterisolasian Khamenei secara pribadi, tetapi juga membuka potensi pergeseran kekuatan di Tehran. Beberapa pengamat menduga kekosongan di pucuk komando Garda Revolusi dapat memicu persaingan internal antar faksi militer dan politik Iran.
Sementara itu, ketegangan dengan Israel diperkirakan akan semakin memuncak. Terlebih, negosiasi nuklir antara Iran dan kekuatan dunia yang belum menemui titik terang turut menambah kompleksitas situasi.
Tantangan Terbesar Sejak 1989
Hilangnya figur seperti Salami dan Hajizadeh disebut sebagai pukulan paling telak bagi Khamenei sejak ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 1989. Dalam kondisi seperti ini, keputusan strategis yang diambil oleh Tehran ke depan akan sangat menentukan arah geopolitik Timur Tengah.
“Pada saat salah satu momen paling berbahaya dalam sejarah Republik Islam, Khamenei justru makin tersudut,” ujar seorang analis politik Iran.
BACA JUGA: Harga Emas Dunia Anjlok Usai Isu Gencatan Senjata Israel-Iran, Investor Lakukan Taking Profit
Kini, dunia menanti bagaimana Khamenei yang memiliki wewenang tertinggi atas militer dan urusan luar negeri Iran akan merespons kehilangan beruntun yang menimpa lingkaran kepercayaannya.
Apakah Iran akan membalas dengan kekuatan penuh, atau justru menempuh jalur diplomatik demi mempertahankan stabilitas internalnya?. (KSC/CNBC)








