PM Netanyahu seret Iran ke medan perang demi hentikan nuklir. Dalam 48 jam, Israel habiskan Rp23 triliun, risiko defisit fiskal 2025 makin membesar.
KLIKSUMUT.COM | INTERNASIONAL – Situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Israel kini menghadapi tantangan besar dengan berperang di dua front sekaligus: melawan milisi Hamas di Gaza dan menghadapi serangan balasan dari Iran. Eskalasi ini tak hanya mengguncang stabilitas kawasan, tapi juga memberikan tekanan luar biasa pada keuangan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut keterlibatan negaranya dalam konflik dengan Iran sebagai “langkah yang diperlukan” demi menghentikan apa yang diklaim sebagai program pengembangan senjata nuklir Iran. “Kami tidak punya pilihan selain bertindak untuk keselamatan nasional,” kata Netanyahu.
BACA JUGA: Netanyahu: Membunuh Khamenei Akan Akhiri Konflik, Bukan Memperparah Perang
Iran sendiri terus membantah tuduhan itu, menegaskan bahwa proyek nuklirnya hanya untuk kepentingan energi sipil. Namun, di tengah saling tuding ini, rudal-rudal Iran tetap berhasil menembus pertahanan Iron Dome dan menghantam kota-kota besar Israel seperti Tel Aviv dan Haifa.
Biaya Perang Membengkak, Keuangan Israel Kritis
Konflik yang berlangsung secara bersamaan di Gaza dan Iran telah menggerus keuangan Israel. Menurut Brigadir Jenderal (Purn.) Re’em Aminach, mantan pejabat senior pertahanan dan penasihat keuangan militer, dalam 48 jam pertama operasi terhadap Iran, Israel menghabiskan US$ 1,45 miliar atau sekitar Rp 23 triliun.
“Hanya untuk operasi ofensif, seperti serangan udara dan amunisi, biayanya mencapai US$ 593 juta. Sisanya digunakan untuk tindakan defensif seperti intersepsi rudal dan mobilisasi pasukan cadangan,” ujarnya kepada Financial Express.
Diperkirakan, perang melawan Iran menguras biaya hingga US$ 725 juta (Rp 11 triliun) per hari, belum termasuk operasi di Gaza yang telah berlangsung lebih lama.
Perang Gaza Habiskan Rp 10,84 Triliun, Mobilisasi Cadangan Paling Mahal
Perang di Gaza juga memberi tekanan besar pada anggaran negara. Menurut data Calcalist, Israel telah menghabiskan lebih dari 250 miliar shekel atau sekitar Rp 10,84 triliun hingga akhir 2024 untuk membiayai operasi militer, dukungan sipil, serta kerugian ekonomi.
Mobilisasi 300.000 pasukan cadangan menjadi komponen pengeluaran paling mahal. Menurut Kementerian Keuangan Israel, mempertahankan 100.000 tentara per hari bisa menghabiskan hingga 100 juta shekel atau sekitar Rp 437 triliun—biaya yang mencakup gaji, logistik, makanan, dan akomodasi.
Risiko Ekonomi 2025: PDB Turun, Defisit Fiskal Terancam Jebol
Kondisi ekonomi Israel kini berada di bawah ancaman serius. Kementerian Keuangan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB 2025 dari 4,3% menjadi 3,6%, dengan alasan penurunan produktivitas sipil dan pembengkakan bea cadangan.
Sementara itu, batas defisit fiskal sebesar 4,9% dari PDB atau setara dengan US$ 27,6 miliar (Rp 446 triliun) terancam dilampaui. Dana darurat yang awalnya disiapkan untuk operasi di Gaza kini hampir habis, mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menghadapi potensi eskalasi jangka panjang.
BACA JUGA: Inggris Kerahkan Jet Tempur ke Timur Tengah, Starmer Desak De-Eskalasi Perang Israel-Iran
Dampak Sipil: Ganti Rugi Properti Capai Rp 13,8 Triliun
Selain kerugian militer dan ekonomi makro, konflik juga memukul kehidupan warga sipil. Otoritas Pajak Israel mengungkapkan bahwa dana kompensasi sebesar 2,4 miliar shekel (Rp 11 triliun) telah dibayarkan untuk menutupi kerusakan properti antara Januari hingga Mei 2025. Total pembayaran kompensasi kini sudah mencapai 3 miliar shekel (Rp 13,8 triliun).
Israel Terjepit, Dunia Waspada
Dengan dua front perang aktif, Israel bukan hanya menghadapi tantangan militer, tetapi juga beban fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika dunia memantau ketegangan geopolitik, para ekonom kini bertanya: sampai kapan Israel mampu bertahan dalam konflik dua arah yang menelan triliunan rupiah setiap harinya?. (KSC)








