KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa tantangan utama negara-negara Islam saat ini tidak hanya berasal dari konflik eksternal seperti yang terjadi di Palestina, tetapi juga dari persoalan internal yang mengakar, seperti korupsi, kelaparan, dan kemiskinan.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Sidang ke-19 Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC) yang digelar di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
“Tak ada negara miskin yang menjadi negara kuat. Maka dibutuhkan pemerintahan yang bersih, tata kelola yang baik, serta institusi yang kuat untuk mencapai kemakmuran dan daya tahan bangsa,” ujar Prabowo di hadapan delegasi dari berbagai negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam).
BACA JUGA: Prabowo Luncurkan Sekolah Rakyat Berasrama Juli 2025, Sasar Anak Keluarga Miskin
Tema PUIC tahun ini, “Good Governance and Strong Institutions as Pillar of Resilience”, menurut Prabowo, sangat relevan dengan kondisi dunia Islam saat ini. Ia menegaskan pentingnya membangun kepemimpinan yang jujur, sistem birokrasi yang profesional, serta pejabat publik yang mengabdi kepada rakyat dan negara.
“Kita tidak mungkin membantu Palestina, tidak mungkin suara kita didengar, kalau bangsa kita sendiri lemah. Kita hanya akan didengar jika kita bersatu dan kuat,” tegas Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menguraikan agenda besar pemerintah Indonesia dalam mewujudkan ketahanan nasional, mulai dari reformasi birokrasi dan politik, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), swasembada pangan dan energi, hingga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
BACA JUGA: Resmi! Presiden Prabowo Terbitkan PP Baru, Tarif Royalti Emas Naik Jadi 16%
Dalam forum internasional tersebut, Prabowo juga membagikan hasil pertemuannya dengan Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam. Keduanya sepakat bahwa dunia Islam memiliki potensi besar sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu menghadirkan perdamaian dunia, sejalan dengan esensi Islam sebagai agama yang membawa pesan kasih sayang dan perdamaian.
Namun, Prabowo mengingatkan bahwa perdamaian hanya bisa dicapai bila dunia Islam kuat secara ekonomi, politik, dan pertahanan. “Kalau kita lemah, maka akan ada pihak-pihak yang ingin kembali menjajah, menjadikan kita pion, budak, atau kacung,” pungkasnya. (KSC)





