KLIKSUMUT.COM – Siapa yang tak kenal Krakatau, grup musik legendaris asal Bandung yang telah mengukir sejarah panjang di dunia musik Indonesia dan internasional? Grup yang digawangi oleh musisi-musisi papan atas seperti Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma, dan Trie Utami ini dikenal dengan keberaniannya menembus batas genre dari jazz fusion, pop, hingga kini menjelajah ke ranah World Jazz.
Krakatau pertama kali dibentuk pada 1986 di kediaman Pra Budi Dharma di kawasan Cipaganti, Bandung. Kala itu, bersama Donny Suhendra, Budhy Haryono, dan Dwiki Dharmawan, mereka ingin menghadirkan musik yang berbeda dari arus utama.
Nama Krakatau sendiri dipilih karena terinspirasi dari Gunung Krakatau, simbol letupan energi dan kekuatan alam yang seakan merepresentasikan semangat musikal mereka.
“Awalnya nama yang muncul itu Delta, lalu Mesopotamia. Tapi akhirnya kami pilih Krakatau karena identitasnya kuat dan lokal,” ungkap Dwiki dalam sebuah wawancara.
Ketika musik Indonesia dikuasai oleh band rock seperti El Pamas, Power Metal, dan Slank, Krakatau hadir dengan nuansa jazz fusion yang masih langka saat itu. Mereka tampil pertama kali di acara Tahun Baru 1985 di Bumi Sangkuriang, Bandung, tanpa vokalis dan langsung mencuri perhatian para penikmat jazz muda kala itu.
Setelah beberapa kali bongkar pasang personel dan pencarian vokalis, akhirnya Trie Utami bergabung pada 1986. Bersama tambahan Indra Lesmana di keyboard dan Gilang Ramadhan di drum, Krakatau merilis album perdana yang menelurkan hits legendaris “Gemilang.”
BACA JUGA: Perjalanan Panjang Yovie & Nuno: Dari Bandung ke Panggung Musik Indonesia
Lagu ini melambungkan nama Krakatau ke puncak popularitas dan membawa mereka menjadi ikon jazz-pop Indonesia di era 1980–1990-an.
Namun, kesuksesan itu juga menjadi titik persimpangan. Beberapa personel, seperti Budhy Haryono, memilih hengkang karena ingin tetap fokus di jalur jazz murni. Sementara Krakatau mulai beradaptasi dengan selera pasar tanpa kehilangan karakter musikalnya.
Transformasi besar terjadi pada 1994, ketika Krakatau memperkenalkan proyek Krakatau Ethno. Menggabungkan elemen musik tradisional Sunda dengan jazz modern, mereka memperkenalkan konsep musik “dasanada” berbasis laras slendro, yang diprakarsai oleh Pra Budi Dharma dan Yoyon Darsono.
Karya mereka dalam album Mystical Mist mendapat pujian kritikus internasional dan membuka jalan tur dunia — dari Australia, Eropa, Amerika, hingga Asia dan Amerika Latin.
Formasi Krakatau Ethno diisi oleh Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma, Ubiet (Nya Ina Raseuki), Ade Rudiana, Yoyon Dharsono, Zainal Arifin, dan Gerry Herb. Mereka tampil di berbagai festival bergengsi seperti Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, dan Toronto Jazz Festival.
Tahun 2013 menjadi momen bersejarah ketika Krakatau menggelar konser “Krakatau Kembali Satu”, menandai reuni formasi legendaris dengan Trie Utami, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Pra Budi Dharma, dan Dwiki Dharmawan.
Setahun kemudian, mereka kembali tampil di Java Jazz Festival 2014 dengan sambutan luar biasa dari penggemar lintas generasi.
Pada 2019, Krakatau Reunion resmi berganti nama kembali menjadi Krakatau, mempertegas eksistensi mereka sebagai grup musik yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Hingga kini, Krakatau bukan sekadar grup musi, mereka adalah simbol evolusi dan kreativitas musik Indonesia. Dengan semangat kolaboratif dan eksploratif, Krakatau membuktikan bahwa musik bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokal dan global. (KSC)
TIM REDAKSI





