KLIKSUMUT.COM – Dunia musik Indonesia pernah dihiasi oleh suara harmonis dan lagu-lagu romantis dari Tangga, grup vokal pop/R&B yang terbentuk di Jakarta pada tahun 2004. Di bawah naungan Sony Music Entertainment Indonesia, Tangga menorehkan empat album penuh yang melambungkan nama mereka di blantika musik Tanah Air sebelum resmi bubar pada 31 Desember 2014.
Kisah Tangga bermula dari tangan dingin Johandi Yahya, produser yang sebelumnya sukses mengorbitkan band Element. Ia tertarik mengembangkan karier Tahir “Tata” Hadiwijoyo, adik drummer Element, Didi Riyadi. Awalnya dikenal sebagai aktor dan model, Tata ternyata memiliki suara khas yang menjanjikan.
Untuk melengkapi formasi, Johandi mengadakan pencarian talenta hingga akhirnya bergabunglah Nerra Merlin, Mohammed Kamga, dan Ratna Sari “Desty” Destardy. Keempatnya kemudian sepakat membentuk grup bernama Tangga, yang menandai babak baru di dunia musik Indonesia.
Album debut Tangga yang bertajuk sama, “Tangga”, dirilis pada awal 2005 dan langsung menarik perhatian pencinta musik Tanah Air dengan warna pop dan R&B yang segar. Namun, pada Desember 2006, menjelang perilisan album kedua, Desty memutuskan hengkang karena merasa tidak cocok dengan arah musikal Tangga yang dianggap terlalu komersial.
Posisi Desty kemudian digantikan oleh Chevrina Anayang, dan Tangga meluncurkan album kedua berjudul “Cinta Begini” pada Februari 2007. Dengan sentuhan vokal baru Chevrina, album ini memperkuat posisi Tangga sebagai salah satu grup vokal paling menjanjikan di Indonesia.
Pada tahun 2008, Tangga merilis album ketiga “Lost in Love”, yang juga menjadi soundtrack film dengan judul yang sama. Menariknya, karena sebagian film berlatar di Paris, Tangga menciptakan dua lagu berbahasa Prancis: “Je Veux Qu’on Me Comprenne” dan “Arretez Vouz”. Eksperimen ini menegaskan kemampuan musikal Tangga dalam menjelajahi berbagai warna dan budaya musik.
Empat tahun kemudian, Tangga meluncurkan album keempat bertajuk “Utuh” (2012). Album ini memuat versi baru dari lagu legendaris “Sephia” milik Sheila on 7. Meskipun aransemen pop mereka menuai kritik dari penggemar Sheila on 7, Tangga tetap memandangnya sebagai bentuk penghormatan terhadap karya besar musik Indonesia.
Melalui “Utuh”, Tangga membuktikan bahwa mereka masih eksis di tengah minimnya penampilan televisi dan gosip bubarnya grup tersebut.
Pada 15 April 2014, Tangga merilis single “Tak Kemana Mana” di SoundCloud. Lagu ini menjadi simbol perpisahan mereka setelah pihak label menolak menjadikannya single resmi. Dalam blog pribadinya, Kamga menjelaskan bahwa lagu tersebut merupakan bentuk kejujuran dan salam perpisahan bagi para penggemar.
Tak lama kemudian, kabar bahagia datang: Nerra Merlin menikah dan pindah ke Surabaya, sementara anggota lainnya memilih tetap bermusik. Dari situ, lahirlah grup baru bernama Dekat, yang beranggotakan Kamga, Tata, dan Chevrina, namun mereka menegaskan bahwa Dekat bukan kelanjutan dari Tangga.
BACA JUGA: Panbers: Kisah Legendaris Empat Bersaudara yang Mengukir Sejarah Musik Indonesia
Akhirnya, pada 31 Desember 2014, Tangga resmi menyatakan bubar setelah sepuluh tahun perjalanan karier yang penuh warna.
Walau telah bubar, karya Tangga seperti “Hebat”, “Cinta Begini”, “Terbaik Untukmu”, dan “Aku Ingin” masih sering diputar dan dinyanyikan ulang oleh generasi baru. Harmoni vokal, aransemen manis, serta pesan cinta universal menjadikan Tangga salah satu grup vokal paling berkesan dalam sejarah musik pop Indonesia. (KSC)
TIM REDAKSI





