Panbers: Kisah Legendaris Empat Bersaudara yang Mengukir Sejarah Musik Indonesia

Panbers: Kisah Legendaris Empat Bersaudara yang Mengukir Sejarah Musik Indonesia
Panbers (ist)

KLIKSUMUT.COM – Nama Panbers mungkin tak asing bagi pecinta musik Indonesia lintas generasi. Grup band asal Surabaya yang dibentuk tahun 1963 ini menjadi ikon penting dalam sejarah musik nasional, terutama di era 1970-an, ketika lagu-lagu mereka seperti “Akhir Cinta” dan “Gereja Tua” meledak di pasaran dan masih abadi hingga kini.

Panbers merupakan singkatan dari Pandjaitan Bersaudara, terdiri dari empat kakak-beradik: Benny Panjaitan (vokal & gitar), Hans Panjaitan (lead & rhythm guitar), Doan Panjaitan (bass & keyboard) dan Asido Panjaitan (drum)

Keempatnya adalah putra dari J.M.M. Pandjaitan, seorang bankir yang kerap berpindah tugas. Masa kecil mereka dihabiskan di Palembang, tempat bakat musik mereka tumbuh. Musik sudah menjadi bagian dari keluarga Panjaitan sang ibu piawai bermain piano, sementara sang ayah gemar memainkan biola.

Terinspirasi oleh Koes Bersaudara, mereka mulai membentuk band anak-anak bernama Tumba Band pada 1957. Dari sinilah cikal bakal Panbers lahir.

Setelah pindah ke Surabaya pada 1959, band keluarga ini bertransformasi menjadi “Panjaitan Brothers”, dan akhirnya resmi berganti nama menjadi Panbers (Panjaitan Bersaudara) pada 25 Januari 1969 di Jakarta.

Nama “Panbers” muncul secara spontan, mengikuti tren band dunia yang memakai huruf S di akhir namanya, seperti The Beatles dan The Rolling Stones.

BACA JUGA: Koes Plus: Legenda Musik Indonesia yang Tak Lekang oleh Zaman, Dari Penjara Orde Lama hingga Abadi di Hati Rakyat

Awal popularitas Panbers dimulai setelah tampil di Jambore Bands 1970 di Istora Senayan bersama Koes Plus dan D’Lloyd. Mereka tampil memukau dengan karya orisinal sendiri — sebuah langkah berani di masa dominasi penyanyi solo.

Bacaan Lainnya

Lagu “Akhir Cinta” menjadi tonggak sejarah mereka di industri musik Indonesia, diikuti kesuksesan album debut “Kami Cinta Perdamaian” pada 1971 di bawah label Dimita Molding Industries. Lagu ini menandai kebangkitan era band pencipta lagu di Indonesia.

Tak berhenti di situ, “Gereja Tua” memberi mereka piringan emas kesembilan dan menjadi salah satu lagu paling dikenang dalam sejarah musik Tanah Air.

Menariknya, Panbers adalah satu-satunya grup band besar Indonesia yang seluruh personelnya berasal dari satu keluarga Batak Toba. Meskipun membawa identitas Batak yang kental, mereka berhasil menembus sekat etnis dan diterima di seluruh Nusantara.

Lagu berbahasa Batak mereka seperti “Masihol Ahu” disambut luar biasa, bahkan saat tampil di Stadion Teladan Medan, penonton membludak hingga tembok stadion jebol!

Keberhasilan Panbers juga menjadi inspirasi bagi banyak band asal Medan seperti The Mercy’s untuk menembus industri musik Jakarta.

Dalam perjalanannya, Panbers telah menelurkan lebih dari 700 lagu dalam berbagai genre  dari rock, pop, rohani, keroncong, hingga Melayu bahkan dalam 15 bahasa daerah Indonesia.

BACA JUGA: The Mercy’s: Legenda Musik Indonesia dari Medan yang Mendunia, Masih Hidup dalam Hati Penggemar

Meski kehilangan beberapa anggota karena sakit dan usia, seperti Hans Panjaitan (wafat 1995) dan Doan Panjaitan (wafat 2010), semangat mereka untuk berkarya tidak pernah padam.

Panbers tetap aktif tampil di berbagai acara musik, tur daerah, hingga panggung nostalgia nasional.

Lebih dari sekadar grup band, Panbers adalah pelopor dan legenda hidup dalam industri musik Indonesia. Mereka membuktikan bahwa karya orisinal, persaudaraan, dan ketekunan bisa mengantarkan musisi lokal menembus sejarah. (KSC)

Pos terkait