KLIKSUMUT.COM | TAPANULI TENGAH – Seorang anak perempuan berusia 14 tahun berinisial AJA, yang baru saja diselamatkan dari sebuah warung remang-remang di Desa Sijungkang, Kecamatan Andam Dewi, Tapanuli Tengah (Tapteng), mengaku diteror melalui pesan WhatsApp usai orang tuanya melaporkan kasus tersebut ke polisi.
Kisah memilukan ini terungkap saat proses penyerahan AJA oleh Dinas Sosial Tapanuli Tengah kepada pihak keluarga pada Rabu pagi (15/10/2025). Namun, yang mengejutkan, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang datang menjemput anak korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini.
“Mana ada lagi keluargaku yang berani menjemput karena sudah diancam semua,” ucap AJA dengan wajah ketakutan, membuat petugas Dinsos terkejut.
BACA JUGA: Polda Sumut Bongkar Praktik Perdagangan Bayi di Medan, 8 Tersangka Diamankan
Ayah Hilang Misterius Usai Buat Laporan ke Polisi
AJA menyebut ayahnya, MH (35), yang sebelumnya membuat laporan resmi ke Polres Tapteng terkait dugaan TPPO pada Senin (13/10/2025), kini hilang tanpa kabar. Terakhir, MH sempat menelpon AJA dan mengatakan dirinya dijemput oleh beberapa pria tak dikenal menggunakan mobil. Ibu AJA sempat diturunkan di wilayah Padangsidimpuan, sementara MH memaksa keluar dari mobil dan sempat bersembunyi di rumah warga.
“Terakhir bapakku telepon, bilang dia dipaksa naik mobil. Mamaku diturunkan di jalan. Bapakku lari, tapi gak tahu di mana. Setelah itu, HP-nya mati,” tutur AJA dengan suara gemetar.
Sejak saat itu, MH tak bisa dihubungi. AJA yang masih berstatus anak di bawah umur kini kebingungan dan ketakutan, bahkan mengaku tak tahu harus pulang ke mana.
BACA JUGA: Polres Tanah Karo Ungkap Kasus Perdagangan Anak, Empat Tersangka Ditangkap
Korban TPPO Minta Perlindungan Polisi
Melalui media, AJA meminta perlindungan langsung kepada Polres Tapteng atas teror yang dialami dirinya dan keluarga.
“Bapak Kapolres, tolong kami. Aku gak tahu bapakku di mana. Aku takut, Pak,” katanya sembari menangis.
Korban Lain Juga Mengalami Teror Serupa
Tak hanya AJA, seorang korban TPPO lainnya, AIS (14), warga Padangsidimpuan, juga mengaku mendapat intimidasi. Menurut AIS, sejak ibunya melapor ke polisi, mereka dibuntuti oleh orang tak dikenal yang diduga suruhan pemilik warung remang-remang.
BACA JUGA: Kasus Perdagangan Orang di Sibolga Diamankan Petugas
AIS bahkan menunjukkan bukti tangkapan layar isi pesan WhatsApp dari seseorang bernama Nurhalima Nasution, yang diduga kuat sebagai pemilik usaha ilegal tersebut.
“Masa nomor HP orang itu (pemilik warung) ada di tangan mereka,” ujar AIS.
Dalam isi pesan yang ditunjukkan ke wartawan, terduga pelaku meminta agar keluarga AIS tidak datang ke Polres dan menandatangani dokumen apapun.
“Tolong mamak ya, jangan kasih mamakmu ke Polres. Nanti tambah rumit.”
BACA JUGA: Jabar Targetkan 27 Daerah Bentuk Gugus Tugas TPPO, Untuk Cegah Perdagangan Orang
Polisi Didesak Beri Perlindungan dan Usut Tuntas TPPO di Tapteng
Kasus ini menambah deretan panjang praktik TPPO di wilayah Tapanuli dan sekitarnya, yang tidak hanya melibatkan anak di bawah umur tetapi juga disertai ancaman terhadap keluarga korban.
Masyarakat dan aktivis perlindungan anak mendesak aparat kepolisian untuk segera memberi perlindungan kepada korban dan keluarganya, mengusut tuntas dugaan keterlibatan pemilik warung remang-remang, dan menyelamatkan MH, ayah korban yang hilang.
Dengan semakin terbukanya kasus ini ke publik, diharapkan aparat bertindak tegas agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia dan eksploitasi seksual. (KSC)
REPORTER: Benny Setiawan








