KLIKSUMUT.COM | JAWA BARAT, BANDUNG – Tren hengkangnya para investor dari Jawa Barat ke luar negeri, terutama Vietnam, menjadi perhatian serius Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ini, yang dinilai sebagai ancaman nyata bagi masa depan ekonomi daerah.
“Saya ngotot untuk investasi, tapi kita harus tahu keadaan hari ini. Investor banyak yang lari ke Vietnam,” ujar Dedi Mulyadi dalam sebuah pernyataan yang viral di media sosial, Minggu (6/4/2025).
BACA JUGA: Modus Arisan dan Investasi: LS Diduga Gelapkan Uang Korban Hingga Ratusan Juta
Menurut Dedi, kepindahan investor bukan semata karena masalah besar, melainkan hal-hal kecil yang kerap disepelekan. Ia menyoroti adanya gangguan dari oknum-oknum di tingkat desa yang mempersulit masuknya investasi.
“Jujur aja ya, desa ini kan banyak oknum Karang Taruna, oknum kepala desa, semua diganggu. Mereka enggak sadar, harga tanah di kampungnya naik karena investasi,” tegasnya.
Dedi menjelaskan bahwa nilai tanah yang melonjak bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan karena kehadiran investasi yang membawa dampak positif. Sayangnya, menurutnya, masih banyak pihak yang justru bersikap serakah, memanfaatkan momen untuk mencari keuntungan pribadi.
“Kalau sudah ngambil harga tanah jangan ketinggian. Banyak kepala desa yang tiba-tiba kaya mendadak karena percalonan tanah,” lanjutnya.
Ia juga mengungkap sisi lain dari kekayaan instan yang dialami sejumlah kepala desa. Banyak yang terjebak gaya hidup konsumtif hingga akhirnya terpuruk.
“Beli mobil Alphard, Rubicon, truk elf, bus, tambah istri, bangun rumah. Habis itu stroke, meninggal, hutangnya banyak,” beber Dedi.
Dedi menekankan bahwa menjadi kaya butuh kesiapan mental dan pengetahuan. Ia menyarankan agar masyarakat belajar mengelola uang dengan bijak, tidak menunjukkan kemewahan secara berlebihan.
“Kalau punya duit, jangan pamer. Sembunyikan. Pakai sepeda aja udah cukup,” katanya.
Bahkan, Dedi menceritakan kisah seorang temannya yang sempat kaya raya namun kini hidup dalam kesulitan.
BACA JUGA: Untuk Genjot Hilirisasi, Pemerintah Targetkan Investasi USD618 Miliar pada 2025
“Sekarang uang Rp500 ribu aja minta ke saya,” tutup Dedi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesiapan infrastruktur, transparansi di tingkat desa, serta integritas aparatur desa menjadi kunci untuk menjaga iklim investasi yang sehat. Jika tidak segera dibenahi, Jawa Barat bisa terus kehilangan kepercayaan dari investor, dan dampaknya bisa panjang bagi pertumbuhan ekonomi daerah. (KSC)








