Harga Batu Bara Turun Empat Hari Beruntun, Padahal Permintaan India dan Ekspor Australia Menguat

Publik Harus Tolak Penggunaan Danantara untuk Hilirisasi Batu Bara
FILE - Kapal-kapal berlayar di dekat tongkang yang penuh dengan batu bara di sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, 19 Desember 2022. (Dita Alangkara/AP)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Harga batu bara dunia kembali mengalami tekanan dan mencatat penurunan selama empat hari perdagangan berturut-turut, meskipun pasar dibanjiri sejumlah sentimen positif seperti lonjakan ekspor Australia hingga proyeksi meningkatnya konsumsi batu bara di India akibat fenomena Super El Niño.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (6/7/2026) ditutup di level US$128,25 per ton, turun 0,58%dibandingkan sesi sebelumnya. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif batu bara yang telah terkoreksi sekitar 0,93% dalam empat hari beruntun.

Meski demikian, kondisi pasar masih menunjukkan perbedaan tren antara batu bara kokas (coking coal) yang cenderung menguat dengan batu bara termal (thermal coal) yang masih berada dalam tekanan.

Salah satu sentimen positif datang dari Australia. Pengiriman batu bara melalui Pelabuhan Gladstone, Queensland, mencapai 6,36 juta ton pada Juni 2026, menjadi volume bulanan tertinggi sepanjang semester pertama tahun ini.

BACA JUGA: Bahlil Pastikan Pasokan Batu Bara PLN Aman, Perintahkan Perusahaan Tambang Kirim Hingga 190 Juta Ton

Data Gladstone Ports Corporation (GPC) yang dikutip Mysteel Global menunjukkan sekitar 70% ekspor dari pelabuhan tersebut merupakan batu bara kokas yang berasal dari kawasan pertambangan Queensland bagian tengah.

Volume ekspor Juni melonjak 41% dibandingkan Mei dan naik 13,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jepang masih menjadi tujuan utama ekspor dengan volume mencapai 2,24 juta ton, naik 46% secara bulanan dan 27% secara tahunan, sekaligus menjadi angka tertinggi sejak November 2022.

Sementara itu, ekspor menuju China meningkat signifikan menjadi 576.221 ton, melonjak 71% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 5,5% secara tahunan.

Peningkatan tersebut dipicu oleh melonjaknya permintaan China setelah sejumlah tambang batu bara domestik menghentikan operasi akibat inspeksi keselamatan pascaledakan tambang di Provinsi Shanxi.

Tambang Blackwater, yang mayoritas dimiliki Whitehaven Coal Limited, menjadi salah satu pemasok utama ekspor melalui Pelabuhan Gladstone.

Selain China dan Jepang, ekspor menuju India mencapai 1,16 juta ton, naik 11,5% dibandingkan Mei, meski masih turun 26% secara tahunan.

Adapun ekspor ke Korea Selatan turun 10,4% secara bulanan menjadi 1,29 juta ton, namun masih tumbuh 52% dibandingkan Juni tahun lalu.

Secara keseluruhan, total ekspor batu bara melalui Pelabuhan Gladstone sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 33,27 juta ton, meningkat 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dukungan lain bagi pasar batu bara datang dari proyeksi meningkatnya konsumsi listrik berbasis batu bara di India akibat fenomena Super El Niño.

Lembaga riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan suhu yang lebih tinggi dan berkurangnya curah hujan akan menekan produksi listrik tenaga air dan tenaga angin di India.

Akibatnya, India diperkirakan mengalami kekurangan pasokan listrik hingga hampir 18 terawatt-hour (TWh) dalam satu tahun ke depan.

Kesenjangan tersebut diperkirakan akan ditutupi melalui peningkatan pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara yang berpotensi menghasilkan sekitar 17 juta ton emisi CO₂.

Sebagai negara pengguna batu bara terbesar kedua di dunia setelah China, India hingga kini masih menggantungkan sekitar 60% kebutuhan listrik nasionalnya pada pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pemerintah India juga terus mempertahankan batu bara sebagai sumber energi utama untuk menghindari risiko krisis listrik, terutama saat gelombang panas meningkatkan konsumsi energi.

Penasihat energi NITI Aayog, Rajnath Ram, sebelumnya menegaskan bahwa batu bara masih akan menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan India setidaknya dalam dua dekade mendatang.

“Kita tidak bisa bersikap subjektif terhadap batu bara. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkannya secara lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga batu bara masih berasal dari China.

BACA JUGA: Menembus Ombak Demi Dakwah, Penyuluh Kemenag Batu Bara Rutin Menyebrang Laut dengan Sampan

Data terbaru menunjukkan kedatangan batu bara melalui jalur kereta menuju pelabuhan-pelabuhan utama di China utara pada 6 Juli 2026 turun 18,63% dibandingkan hari sebelumnya.

Penurunan pasokan dari wilayah tambang utama seperti Shanxi, Shaanxi, dan Inner Mongolia memang berpotensi mengurangi stok pelabuhan. Namun, lemahnya permintaan dari pembangkit listrik membuat dampaknya terhadap harga masih terbatas.

Pasar batu bara termal China juga masih menghadapi tekanan akibat tingginya stok di pembangkit listrik dan cuaca yang relatif tidak terlalu panas.

Konsumsi harian enam kelompok pembangkit listrik pesisir utama pada 3 Juli 2026 tercatat sekitar 786.300 ton, turun 7,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, produksi listrik tenaga air tetap tinggi berkat curah hujan yang melimpah di wilayah Sungai Yangtze serta hujan yang dipicu sisa Topan Maysak, sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Dengan persediaan batu bara yang masih tinggi, pembangkit listrik di China lebih mengandalkan kontrak jangka panjang daripada membeli batu bara di pasar spot.

Meski sejumlah faktor fundamental seperti meningkatnya ekspor Australia dan potensi kenaikan konsumsi India memberikan harapan positif, pasar batu bara global masih menghadapi tekanan dari lemahnya permintaan di China.

Selama konsumsi listrik China belum pulih dan stok batu bara di pembangkit masih tinggi, ruang penguatan harga diperkirakan tetap terbatas. Namun, apabila dampak Super El Niño benar-benar meningkatkan kebutuhan listrik di India dalam beberapa bulan mendatang, permintaan batu bara global berpotensi kembali menguat dan menjadi penopang harga. (KSC)

Pos terkait