Indonesia Siap Ekspor Listrik Hijau ke Singapura, Danantara Garap Proyek 3,4 GW di Batam, Bintan, dan Karimun

PLN Siagakan Ribuan Petugas untuk Jaga Keandalan Listrik Selama Lebaran
Sebanyak 5.911 petugas lapangan PLN akan bertugas selama 24 jam untuk menjaga wilayah Jawa Barat dari gangguan listrik.

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Pemerintah Indonesia semakin serius mengembangkan kerja sama energi bersih dengan Singapura. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa Indonesia berencana mengekspor listrik hijau ke Singapura dengan kapasitas mencapai 3,4 Giga Watt (GW) dalam beberapa tahun ke depan.

Proyek strategis ini akan melibatkan Danantara sebagai pihak pengembang dari Indonesia yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal Singapura, yakni Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections sebagai pembeli (off-taker) listrik.

“Kita sebagai perusahaan dari Indonesia-nya yang akan (mengembangkan listrik). Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker-nya ya. Ya, karena mereka kan juga BUMN,” ujar Rosan di Istana Negara, Senin (6/7/2026).

BACA JUGA: Kondisi Listrik Jawa Mulai Pulih, PLN Tekan Pemadaman Bergilir dan Perkuat Sistem Kelistrikan

Rosan menjelaskan, pembangkit listrik berbasis energi terbarukan tersebut akan dibangun di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Total kapasitas yang ditargetkan mencapai 3,4 GW, namun pembangunan dilakukan secara bertahap.

Pada fase pertama, kapasitas pembangkit yang akan dibangun berkisar antara 600 Mega Watt (MW) hingga 1,2 Giga Watt (GW).

Menurutnya, proyek ini sepenuhnya menggunakan sumber energi terbarukan sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional.

“Tapi pembangunan pertama antara 600 Mega Watt sampai 1,2 Giga Watt. Ini tapi sifatnya renewable ya,” jelas Rosan.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan kerja sama ekspor listrik dengan Singapura sebenarnya telah dimulai sejak tahun lalu melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

Kesepakatan tersebut mencakup tiga sektor utama, yakni:
– Ekspor listrik hijau;
– Pengembangan energi bersih;
– Pengembangan Carbon Capture Storage (CCS).

Namun demikian, implementasi ekspor listrik masih berada dalam tahap pembahasan, khususnya terkait penetapan harga jual dan regulasi.

“Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kita masih menegosiasi tentang harga dan regulasi. Harga itu memang menjadi kewenangan pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan,” kata Bahlil.

Bahlil menegaskan pemerintah tidak ingin terburu-buru menyepakati ekspor listrik jika nilai ekonominya belum memberikan manfaat optimal bagi Indonesia.

Menurutnya, kerja sama energi harus memberikan keuntungan yang seimbang bagi kedua negara.

BACA JUGA: Bahlil Minta PLN Segera Atasi Pemadaman Bergilir, Pemerintah Soroti Gangguan Teknis Kelistrikan

“Kita pengen semuanya harus punya manfaat yang win-win untuk kedua belah pihak. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya,” tegasnya.

Ia optimistis proses negosiasi akan segera menemukan titik temu sehingga proyek ekspor listrik hijau Indonesia ke Singapura dapat segera direalisasikan.

Rencana ekspor listrik hijau ini dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sektor energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya energi terbarukan Indonesia.

Selain berpotensi mendatangkan devisa, proyek tersebut juga diproyeksikan mempercepat pembangunan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai pusat energi hijau nasional yang terintegrasi dengan kebutuhan listrik regional di Asia Tenggara. (KSC)

Pos terkait