KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Siapa yang tak mengenal Base Jam, grup musik pop rock legendaris Indonesia yang melambung di era 90-an dengan lagu-lagu hits seperti “Bukan Pujangga”, “Jatuh Cinta”, hingga “Hujan Tanpa Awan”. Grup band ini terbentuk pada 15 Januari 1994.
Grup musik yang awalnya dibentuk oleh sekelompok remaja yang merupakan anak-anak karyawan Jasa Marga ini, memulai perjalanan mereka dengan nama JM’s KIDS (Anak-Anak Jasa Marga). Siapa sangka, dari sebuah penampilan di acara 17 Agustusan, mereka menjelma menjadi salah satu band papan atas Tanah Air.
Nama Base Jam sendiri diambil dari inisial kedelapan personel awal mereka: Adon, Sigit, Adnil, Aris, BS, Anya, Sita, dan Arif. Sementara “Jam” mengacu pada Jam Session atau Jasa Marga tempat mereka pertama kali tampil.
Formasi pertama Base Jam terdiri dari: Adon Saptowo (Vokal), Sigit Wardana (Vokal), Adnil Faisal (Gitar), Ardi “Aris” Isnandar (Gitar), Bambang “BS” Susanto (Drum), Intan “Anya” Putri Werdiniadi (Keyboard) dan Ardhini “Sita” Citrasari (Bass)
Karier Base Jam benar-benar melejit saat merilis album debut mereka “Bermimpi” (1996) di bawah label PT Musica Studio’s. Lagu-lagu seperti “Masa Indah” dan “Illusi” menjadi favorit remaja kala itu, disusul dengan kesuksesan album kedua “DUA” (1997) dan ketiga “Ti3a” (1998).
Namun, puncak popularitas Base Jam diraih lewat lagu “Bukan Pujangga”, yang dirilis pada 1998. Lagu ini memenangkan banyak penghargaan bergengsi seperti AMI Awards 1999 dan MTV Video Music Award Indonesia, menjadikannya sebagai salah satu lagu paling ikonik dalam sejarah musik pop Indonesia.
Layaknya banyak band besar, Base Jam juga mengalami pasang surut formasi. Beberapa anggota seperti Adnil, Anya, dan BS memutuskan hengkang, digantikan oleh musisi-musisi baru seperti Christopher “Coki” Bollemeyer (yang kemudian bergabung dengan Netral), Oni Fathoni, hingga Alvin Kurniawan.
Meski mengalami beberapa fase vakum, termasuk setelah album keenam “Dua Sisi” (2003), semangat Base Jam tidak pernah padam. Tahun 2009, mereka bangkit dengan formasi baru dan merilis lagu “Aku Berbeda” di bawah nama New Base Jam.
Tahun 2015 menjadi momen nostalgia sekaligus titik balik. Base Jam merilis album “Reunion 21 Tahun”, mempertemukan kembali personel lama seperti Sigit Wardana dan Adnil Faisal. Album ini menampilkan dua lagu baru serta 10 lagu lama yang diaransemen ulang, dan kembali didistribusikan oleh Musica Studios.
Lebih dari 30 tahun berkarya, Base Jam tidak hanya dikenal sebagai band 90-an, tapi juga sebagai inspirasi banyak musisi muda Indonesia. Musik mereka yang memadukan pop rock dengan sentuhan lirik puitis masih relevan hingga kini.
BACA JUGA: KLa Project: Perjalanan Legendaris Band Pop Indonesia yang Tak Lekang oleh Waktu
Lagu seperti “Bukan Pujangga” menjadi simbol cinta yang tulus dan jujur – tanpa perlu menjadi “pujangga”, seseorang bisa tetap mencintai sepenuh hati. Pesan inilah yang membuat karya Base Jam tetap dicintai lintas generasi.
Dengan semangat persahabatan, profesionalisme, dan kecintaan pada musik, Base Jam tetap menjadi bagian penting dalam sejarah musik Indonesia. “Kami bukan pujangga, yang pandai merangkai kata… Tapi kami selalu jujur dalam bermusik,” itulah semangat yang terus dibawa Base Jam sejak 1994 hingga kini. (KSC)








