AKA: Legenda Rock Surabaya yang Mendobrak Panggung Musik Indonesia Sejak 1967

AKA: Legenda Rock Surabaya yang Mendobrak Panggung Musik Indonesia Sejak 1967
AKA Band (IST)

KLIKSUMUT.COM – Di tengah hingar-bingar geliat musik Indonesia era 1970-an, nama AKA menjulang sebagai salah satu band rock paling fenomenal dan kontroversial. Lahir di Surabaya pada 23 Mei 1967, grup ini bukan sekadar band rock, tetapi juga ikon panggung yang dikenal dengan aksi teatrikal ekstrem yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

Nama AKA merupakan singkatan dari Apotik Kaliasin, tempat orang tua sang vokalis sekaligus motor band, Ucok Harahap, membuka usaha. Di situlah Ucok, bersama Haris Sormin, Peter Wass, Soenata Tanjung, dan Zainal Abidin, mulai mengasah musik rock yang kelak mengguncang Nusantara. Honor pertama mereka? Hanya Rp 20 ribu, namun semangat mereka jauh melampaui angka itu.

Pergantian personel terjadi silih berganti, termasuk masuknya Syech Abidin menggantikan Zainal serta Arthur Kaunang yang kemudian membentuk fondasi “formasi emas” AKA bersama Ucok, Soenata, dan Syech.

Jika band rock identik dengan musik keras, AKA membawa kegilaan itu ke level berbeda. Mereka tampil dengan aksi panggung teaterikal yang membuat penonton terpukau bahkan ketakutan.

Beberapa aksi panggung yang legendaris antara lain: Ucok digantung hidup-hidup di awal konser, atraksi makan ayam hidup, aksi kayang ekstrem di atas tiang gantungan dan disabet cambuk, ditusuk pedang, dan masuk peti mati ketika konser di Taman Ismail Marzuki, 1973

Bacaan Lainnya

Kontroversial? Tentu saja. Namun justru itulah yang membuat AKA menjadi magnet besar bagi penggemar rock.

BACA JUGA: Ahmad Band: Supergrup “Keras Kepala” Ahmad Dhani yang Lahir dari Gejolak Reformasi 1998

Tak hanya mengguncang Indonesia, AKA juga sukses menembus panggung internasional. Saat dikontrak tampil di West Point Garden Bar & Restaurant, Singapura, mereka membawakan gaya rock blues dan psychedelia—bahkan sang manajer pun dipaksa menjadi pemain alat musik tiup dadakan! Penampilan itu sukses total.

Tak semua kota dapat menerima gaya teatrikal AKA. Konser di Tasikmalaya dan Yogyakarta sempat ricuh karena aksi ekstrem Ucok. Bahkan gitar bass Arthur dirusak penonton dan beberapa personel terluka hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Meski dikenal sebagai band rock keras, album-album AKA justru berisi banyak lagu pop mendayu yang sukses secara komersial. Lagu-lagu seperti Akhir Kisah Sedih, Dunia Buram, Di Akhir Bulan Lima, hingga Badai Bulan Desember menjadi hit besar pada masanya.

Sepanjang kariernya, AKA merilis sembilan album studio yang memperkaya khazanah musik Indonesia.

Pada puncak popularitas, Ucok memilih fokus pada proyek pribadi, termasuk mendirikan grup Uhisga dan kemudian Duo Kribo bersama Ahmad Albar pada 1977. Tanpa Ucok, tiga personel lain—Soenata, Arthur, dan Syech—membentuk band SAS yang cukup sukses di dekade 1980-an dengan musik yang lebih soft rock.

Kehidupan para anggota AKA berubah drastis seiring waktu. Banyak di antara mereka menjadi pribadi religius. Ucok sendiri sempat tersiar kabar hidup sebagai paranormal sebelum akhirnya meninggal dunia pada 3 Desember 2009 akibat kanker paru-paru. Syech Abidin menyusul pada 9 November 2013.

BACA JUGA: The Mercy’s: Legenda Musik Indonesia dari Medan yang Mendunia, Masih Hidup dalam Hati Penggemar

Kini, hanya Arthur Kaunang dan Soenata Tanjung yang masih hidup, meski keduanya tak lagi aktif di panggung rock.

Meski telah puluhan tahun berlalu, AKA dan SAS tidak pernah benar-benar bubar dalam hati para penggemarnya. Musik, aksi panggung, dan keberanian mereka merobek batas ekspresi pada zamannya menjadikan AKA salah satu legenda rock terbesar Indonesia.

Hingga kini, nama AKA tetap dikenang sebagai pelopor rock teatrikal Indonesia, inspirasi bagi generasi musisi berikutnya, dan simbol keberanian bermusik tanpa batas. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait