Trump Umumkan AS Bom Tiga Fasilitas Nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Esfahan Jadi Sasaran

Bicara Lewat Telepon dengan Prabowo, Trump Sampaikan Salam Hangat pada Rakyat RI
Calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, di Palm Beach County Convention Center, Florida, pada 6 November 2024. (Foto: Reuters)

KLIKSUMUT.COM | AS – Dunia kembali diguncang oleh ketegangan geopolitik tingkat tinggi. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni di Fordow, Natanz, dan Esfahan.

Serangan dilakukan pada Sabtu malam waktu Washington (21/6/2025), menggunakan pembom siluman B-2 Spirit dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman, Missouri. Operasi militer ini disebut Trump sebagai tindakan “sangat sukses” dan menandai eskalasi besar dalam konflik kawasan Timur Tengah yang sudah memanas.

“Kami telah menyelesaikan serangan kami yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan,” tulis Trump melalui akun resmi media sosialnya.

BACA JUGA: Wali Kota Haifa Desak Israel Akhiri Perang dengan Iran, Sindir Ketidaktegasan Donald Trump

“Semua pesawat dalam perjalanan pulang dengan selamat. Selamat kepada prajurit Amerika kita yang hebat. Tidak ada militer lain di dunia yang dapat melakukan ini. SEKARANG WAKTUNYA UNTUK PERDAMAIAN!” lanjutnya.

Fokus Serangan ke Fordow: Markas Nuklir Iran

Dari tiga target, fasilitas Fordow disebut mengalami kerusakan paling parah. Lokasi ini selama bertahun-tahun menjadi pusat perhatian dunia karena diklaim sebagai salah satu fasilitas bawah tanah tempat Iran melakukan pengayaan uranium secara intensif.

Serangan udara tersebut menggunakan GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), bom seberat 30.000 pon yang dikenal sebagai “penghancur bunker”, khusus dirancang untuk menembus perlindungan beton dan baja yang melindungi fasilitas bawah tanah.

AS-Iran Berada di Ambang Perang Langsung

Langkah berani ini menempatkan Amerika Serikat dalam konflik bersenjata langsung dengan Iran, sesuatu yang sebelumnya dihindari Trump selama periode keduanya menjabat. Ketegangan meningkat di tengah serangan Israel terhadap Iran yang bertujuan melemahkan program nuklir Teheran serta menggulingkan pemerintah Iran.

Serangan ini juga menjadi pembalikan sikap drastis dari Trump, yang dua hari sebelumnya masih memberi sinyal kemungkinan diplomasi.

“Berdasarkan fakta bahwa ada peluang besar negosiasi yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan melakukannya dalam dua minggu ke depan atau tidak,” ujar Trump dalam pernyataan resmi Gedung Putih, Kamis lalu.

Namun, keputusan untuk menyerang ternyata diambil lebih cepat. Langkah ini disebut sebagai bentuk tekanan maksimal terhadap Iran agar bersedia berunding dan menghentikan ambisi nuklirnya.

Latar Belakang Ketegangan: Nuklir Iran dan Ambisi Israel

Konflik nuklir Iran sudah menjadi isu geopolitik global selama dua dekade terakhir. Iran bersikeras program nuklirnya untuk kepentingan damai, namun negara-negara Barat, khususnya AS dan Israel, menuduhnya mencoba membuat senjata pemusnah massal.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran 2015 (JCPOA), yang awalnya dirancang oleh Presiden Barack Obama dan sekutu internasional. Trump menilai perjanjian tersebut gagal menghentikan ambisi Iran.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berulang kali menyuarakan penolakan keras terhadap program nuklir Iran. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Netanyahu terang-terangan menyatakan bahwa Israel akan menyerang fasilitas nuklir Iran kapan pun diperlukan.

BACA JUGA: Trump Sebut Ia dan Putin Bisa Capai Hal “Signifikan” untuk Akhiri Perang Ukraina

Apa Selanjutnya? Dunia Menanti Respons Iran

Hingga saat ini, Iran belum secara resmi merespons serangan udara AS tersebut. Namun para analis memperkirakan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam, terutama setelah wilayah strategisnya diserang langsung oleh kekuatan militer asing.

Ketegangan di kawasan Teluk Persia pun diprediksi meningkat tajam, dan dunia internasional mendesak agar kedua belah pihak segera menempuh jalur diplomasi. (KSC)

Pos terkait