Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Airlangga Ungkap Penyebab Utama Tekanan Kurs

Rupiah Tembus Rp16.300 per 1 US$, Jokowi: Mata Uang Semua Negara Sedang Tertekan
Seorang pegawai valas menghitung uang kertas dolar AS dan Rupiah (foto: ilustrasi).

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS.

Menurut Airlangga, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk meningkatnya kebutuhan dolar AS selama musim ibadah haji dan periode pembayaran dividen perusahaan pasca laporan keuangan tahunan.

“Faktor global juga sangat mempengaruhi dan seperti yang saya sampaikan selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, banyak perusahaan melakukan pembayaran dividen pada periode ini sehingga kebutuhan mata uang dolar AS meningkat signifikan. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik antara AS dan Iran turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

BACA JUGA: Rupiah Melemah ke Rp17.188 per Dolar AS, Sentimen Global dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelasnya.

Kenaikan harga minyak global dinilai menjadi faktor eksternal yang cukup berat bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga energi membuat kebutuhan devisa meningkat sehingga turut memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Airlangga tetap optimistis kondisi rupiah dapat membaik pada semester II tahun 2026.

“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” katanya.

Berdasarkan data perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.

Sementara itu, analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik, terutama pasar yang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Selain itu, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas akibat membengkaknya subsidi energi seiring harga minyak dunia yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

BACA JUGA: Bank Indonesia Perkuat Intervensi, Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Global

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI yang diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia masih di atas 100 dolar,” ujar Rully.

Pelaku pasar kini menantikan kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta perkembangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.

Jika harga minyak dunia terus naik dan permintaan dolar AS tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Namun, stabilitas pasar keuangan global dan langkah intervensi Bank Indonesia dapat menjadi faktor penahan pelemahan lebih lanjut. (ANT/ist)

Pos terkait