KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Jumat (17/4/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 50 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp17.188 per dolar AS, sekaligus menyentuh posisi terendahnya dalam beberapa waktu terakhir.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi kuat oleh sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, optimisme pasar mulai tumbuh seiring adanya gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel. Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan kemungkinan pertemuan dengan Iran untuk membahas penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
“Pasar merespons positif potensi meredanya konflik, terutama setelah Iran disebut membuka peluang tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Meski ada sinyal damai, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Konflik antara AS, Iran, dan Israel masih menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian global. Penutupan Selat Hormuz selama tujuh pekan terakhir bahkan sempat mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah jenis Brent pun sempat melonjak hingga menembus 118 dolar AS per barel pada awal konflik. Kondisi ini memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BACA JUGA: Indo Intertex 2026 Jadi Momentum Bangkit Industri Tekstil
Dari sisi ekonomi global, data tenaga kerja AS juga turut memperkuat dolar. Klaim pengangguran awal tercatat turun menjadi 207 ribu pada pekan yang berakhir 11 April, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 215 ribu.
Meski demikian, indikator lain seperti data JOLTS menunjukkan aktivitas perekrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih relatif rendah, menandakan pasar tenaga kerja yang cenderung stabil.
Di tengah tekanan global, kondisi ekonomi domestik Indonesia sebenarnya masih cukup solid. Inflasi tetap terkendali dan berada di sekitar target Bank Indonesia, sementara konsumsi rumah tangga menunjukkan performa positif, terutama didorong momentum Ramadan dan Lebaran.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatatkan surplus. Sektor komoditas unggulan seperti batu bara dan minyak kelapa sawit turut menjadi penopang di tengah gejolak global.
Namun, memasuki akhir kuartal I 2026, tekanan eksternal mulai terasa. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dengan tidak menaikkan harga bahan bakar bersubsidi, meskipun harga minyak global meningkat. Kebijakan ini dinilai penting untuk menahan laju inflasi agar tidak melonjak tajam.
BACA JUGA: Pemerintah Dorong Dekarbonisasi Industri Semen, Siapkan Regulasi Wajib untuk Tekan Emisi
Berdasarkan analisis yang ada, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam waktu dekat. Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.180 hingga Rp17.220 per dolar AS.
Sementara itu, dalam sepekan ke depan, mata uang rupiah diprediksi berada dalam rentang Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS.
Dengan berbagai sentimen global yang masih dinamis, pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap potensi volatilitas yang tinggi di pasar keuangan. (KSC)
TIM REDAKSI





