REPORTER: Benny
EDITOR: WalI
KLIKSUMUT.COM | TAPTENG – Pj. Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah, Sugeng Riyanta meninjau sejumlah pembangunan proyek di tiga Kecamatan, Pandan, Tukka dan Sarudik, ditemukan sejumlah bangunan yang kurang pas menurut orang nomor satu di Pemkab Tapteng tersebut.
Menurut Pj Sugeng kalau tidak di control dan ditinjau bisa saja pekerjaan tersebut terkesan lambat nantinya, dikatakan Sugeng seperti yang di Kecamatan Badiri dirinya sudah perintahkan Camat untuk menindaklanjuti tiap hari agar dilihat.
BACA JUGA: Mendukung Program Asta Cita, Sugeng Riyanta: Dana Desa Harus Dikelola Baik Demi Kepentingan Masyarakat
“Jangan sampai terlambat dan jangan sampai mangkrak itu tujuannya. Kemudian tadi yang di pandan sekolah Al-Muslimin kita akan bantu terus. Semoga nanti cepat selesai. Tujuannya adalah memastikan bahwa proyek-proyek pemerintah yang dianggarkan dari APBD berjalan dengan baik,” kata Sugeng, Selasa (17/12/24).
Memasuki akhir tahun tujuan Pj Sugeng turun kelapangan ingin memastikan progres pembangunan yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Ditanya apabila pekerjaan tersebut lewat dari batas waktu yang ditentukan? Sugeng mengutarakan bahwa ada dua skema, kalau lewat batas waktu akan dilihat, kalau faktornya adalah terkait dengan adanya cuaca, hujan yang tidak memungkinkan bisa jadi diperpanjang.
“Tapi dengan kekentuan harus dikenakan denda, dendanya 0,005% setiap hari. Tapi kalau terlambatnya karena kontraktornya yang memang tidak profesional, bukan karena hal-hal di luar kemampuan dia, berarti diputus kontrak,” katanya.
“Kalau putus kontrak nanti akibatnya dikenakan denda, dimasukkan blacklist, tahun depan perusahaan itu tidak bisa ikut tender lagi, kemudian retensi jaminannya dicairkan menjadi haknya pemerintah,” sambungnya.
Masih sambung Sugeng, kalau kontrak diputus sebenarnya merugikan bagi masyarakat. Kenapa? Bangunannya menjadi mangkrak, tidak bisa segera diselesaikan, meluncurkannya lagi misalnya untuk menyelesaikan, pasti mekanisme anggarannya tidak bisa langsung cepat, sehingga masyarakat tidak bisa menggunakan.
“Jadi harapan saya, kalau terlambat, bukan karena kontraktornya yang memang tidak profesional, semua masih dalam manajemen, situasi yang kemudian bisa diperpanjang. Nah ini juga menjadi evaluasi bagi saya. Selama ini
kan proyek-proyek itu selalu diluncurkan belakangan, proyek itu bulan-bulan Agustus baru tender dimulai ini tidak sehat,” urai Sugeng.
Sugeng juga sempat membandingkan dengan melihat pola proyek-proyek yang didanai APBN. Itu dimulai pada satu Januari tapi di bulan November APBN itu sudah tender.
“Kalau pemerintah pusat bisa, kita kenapa tidak? Makanya saya sudah mengambil posisi untuk tahun 2025 ini. Untuk proyek-proyek yang didanai dengan DAU, saya akan minta di bulan Januari sudah dirundingkan untuk ditenderkan. Untuk mulai dijalankan sehingga Februari bisa proyek fisik jalan.
BACA JUGA: IMI Paparkan Rencana Induk Rally of Indonesia Road to WRC ke Pj Gubsu
Menurut Sugeng, bila pada Februari proyek berjalan, musimnya juga kemarau sehingga kerjaan nyaman dilakukan tidak ada halangan hujan. Jadi dipertengahan bulan semua pembangunan proyek sudah bisa dirasakan oleh masyarakat.
“Nah, keuntungannya di situ. Sama juga kebiasaan kita pengadaan-pengadaan barang modal, beli komputer, beli laptop di akhir-akhir tahun. Kemudian beli obat untuk persediaan rumah sakit di akhir tahun, Ini salah ini? Namanya belanja modal itu di awal tahun karena akan digunakan selama tahun anggaran berjalan,” timpal Pj Sugeng. (KSC)








