Perang Pecah di Perbatasan Thailand-Kamboja, Ketegangan Meningkat, Dunia Internasional Cemas

Perang Pecah di Perbatasan Thailand-Kamboja, Ketegangan Meningkat, Dunia Internasional Cemas
Konflik bersenjata kembali pecah di perbatasan Thailand dan Kamboja, memanaskan sengketa wilayah lama yang selama bertahun-tahun terhindar dari sorotan dunia. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM – Konflik bersenjata kembali pecah di perbatasan Thailand dan Kamboja, memanaskan sengketa wilayah lama yang selama bertahun-tahun terhindar dari sorotan dunia. Eskalasi terbaru ini melibatkan serangan udara, tembakan artileri, dan ledakan ranjau darat yang mengakibatkan korban jiwa dan luka serius di kedua pihak.

Perang dingin yang selama ini membara akhirnya meletup setelah dua prajurit Thailand kehilangan kaki akibat ledakan ranjau di wilayah sengketa dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Tindakan itu memicu respons militer Thailand dengan meluncurkan serangan udara pada Kamis (24/07/2025) yang menyasar posisi militer Kamboja.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Perang Thailand-Kamboja Meletus: 14 Tewas, Jet Tempur F-16 Dikerahkan, Dunia Internasional Bereaksi

Tak tinggal diam, militer Kamboja langsung membalas lewat tembakan artileri dan roket yang mengarah ke pos penjagaan Thailand. Ketegangan pun meningkat drastis, membuat komunitas internasional menyatakan keprihatinan dan mendesak kedua negara untuk menahan diri.

Awal Mula Ketegangan: Dari Baku Tembak hingga Perang Terbuka

Konflik ini mencuat ke permukaan sejak Mei 2025, ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan singkat dengan pasukan Thailand di area strategis Segitiga Zamrud, titik temu antara Thailand, Kamboja, dan Laos.

Meski sempat ada sinyal diplomatik untuk meredam ketegangan, provokasi terus terjadi. Thailand memperketat penjagaan perbatasan, membatasi akses warga sipil, dan bahkan mengancam akan memutus aliran listrik serta koneksi internet ke kota-kota perbatasan Kamboja.

Sebagai balasan, Kamboja melakukan embargo terhadap impor buah dan sayuran dari Thailand, serta melarang penayangan film dan drama asal Thailand di seluruh negeri. Ketegangan kultural ini turut memperkeruh suasana, menyulut api nasionalisme di masing-masing negara.

Ledakan Ranjau Picu Konflik Bersenjata

Insiden yang paling memicu eskalasi terjadi pada Rabu (16/07/2025), saat ranjau darat meledak dan membuat seorang tentara Thailand kehilangan kaki. Kurang dari sepekan kemudian, ledakan ranjau kedua menghantam kembali, melukai lima prajurit Thailand dan membuat satu korban kembali kehilangan kaki.

Ledakan tersebut diduga kuat berasal dari wilayah sengketa yang penuh ranjau sisa konflik masa lalu. Militer Thailand menganggap Kamboja bertanggung jawab dan meluncurkan serangan sebagai bentuk pembalasan.

Candi Kuno, Sumber Sengketa yang Tak Pernah Usai

Thailand dan Kamboja berbagi garis perbatasan sepanjang 817 kilometer, yang sebagian besar dipetakan secara sepihak oleh kolonial Prancis saat menjajah Kamboja. Sengketa terutama berkutat di sekitar wilayah Candi Preah Vihear, situs warisan dunia UNESCO yang pernah memicu konflik mematikan pada 2011.

Meski Mahkamah Internasional (ICJ) telah memutuskan bahwa kompleks candi tersebut milik Kamboja, Thailand hingga kini masih menolak sepenuhnya keputusan tersebut. Thailand beranggapan batas wilayah itu belum pernah disepakati secara resmi oleh kedua belah pihak.

Krisis Perbatasan Guncang Politik Thailand

Konflik ini tak hanya memicu kekacauan militer, namun juga menimbulkan gejolak politik domestik di Thailand. Perdana Menteri muda Thailand, Paetongtarn Shinawatra, harus menghadapi skorsing setelah rekaman percakapan pribadinya dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik.

Dalam rekaman berdurasi 17 menit itu, Paetongtarn terdengar mengkritik pendekatan militer negaranya dalam menyikapi krisis perbatasan. Hal ini dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap otoritas militer Thailand dan langsung memicu tekanan dari dalam kabinet serta parlemen.

Kini, posisi Paetongtarn kian terancam. Ia menghadapi potensi pemecatan permanen dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Ketegangan internal antara pihak militer dan pemerintahan sipil memperburuk ketidakstabilan politik Thailand yang sudah berlangsung sejak lama.

Komunitas Internasional Serukan Perdamaian

Sejumlah negara tetangga serta organisasi internasional seperti ASEAN dan PBB telah menyerukan gencatan senjata dan dialog diplomatik. Namun hingga saat ini, belum ada sinyal de-eskalasi dari kedua belah pihak.

Jika konflik terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi krisis kemanusiaan seperti yang pernah terjadi pada 2011, di mana ribuan warga sipil terpaksa mengungsi dari wilayah perbatasan.

BACA JUGA: Polisi Kamboja Selidiki Kasus Warga Indonesia Korban Perdagangan Ginjal

Perbatasan Membara, Asia Tenggara Waswas

Perang di perbatasan Thailand dan Kamboja membuka kembali luka lama yang belum sempat sembuh. Sengketa warisan kolonial, nasionalisme, dan kepentingan politik kini berpadu menjadi bom waktu yang mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Dengan meningkatnya eskalasi militer dan memburuknya hubungan diplomatik, masa depan perdamaian di kawasan itu kini berada di ujung tanduk. Dunia hanya bisa berharap agar diplomasi segera berbicara sebelum peluru kembali menggema di antara reruntuhan candi tua dan ranjau-ranjau yang belum sempat digali. (KSC)

Pos terkait