Letto, Band Asal Yogyakarta yang Tak Lekang oleh Waktu: Dari “Ruang Rindu” hingga “Cinta, Bersabarlah…”

Letto, Band Asal Yogyakarta yang Tak Lekang oleh Waktu: Dari "Ruang Rindu" hingga "Cinta, Bersabarlah..."
Letto

KLIKSUMUT.COM – Nama Letto sudah lama menjadi ikon dalam dunia musik Indonesia. Band asal Yogyakarta ini dikenal dengan lagu-lagu bernuansa puitis dan penuh makna, seperti Ruang Rindu, Sandaran Hati, dan Sebelum Cahaya. Dikenal luas sejak 2005, Letto sukses merebut hati pendengar di Tanah Air maupun Malaysia dengan lirik-lirik yang dalam dan melodi yang menenangkan.

Letto resmi berdiri pada 21 April 2004. Grup ini beranggotakan Noe (Sabrang Mowo Damar Panuluh) sebagai vokalis, Patub (Agus Riyono) pada gitar, Arian (Ari Prastowo) di posisi bass, dan Dhedot (Dedi Riyono) sebagai drummer.

Keempatnya telah bersahabat sejak masih bersekolah di SMU 7 Yogyakarta, dan setelah sempat berpisah karena urusan kuliah, mereka kembali bersatu untuk membentuk Letto. Menariknya, sang vokalis Noe merupakan putra dari budayawan dan penyair ternama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sebuah fakta yang kerap membuat warna musik Letto terasa begitu filosofis dan reflektif.

Pada tahun 2016, Letto menambah dua personel baru: Cornel (Cornelius Prapaska) sebagai gitaris dan Widi sebagai keyboardis. Keduanya sebelumnya telah lama menjadi additional player bagi Letto di berbagai panggung.

Debut Letto dimulai lewat album “Truth, Cry, and Lie” (2005) yang melahirkan sederet hit fenomenal seperti Sampai Nanti, Sampai Mati, Sandaran Hati, Ruang Rindu, dan Sebenarnya Cinta. Album ini bahkan mendapat sertifikat Platinum dan penghargaan SCTV Music Award 2007 untuk kategori Album Pendatang Baru Terbaik.

Bacaan Lainnya

Popularitas Letto menembus batas negara. Di Malaysia, album Truth, Cry & Lie dirilis pada 23 Juli 2007, dan lagu-lagu mereka sempat menduduki puncak tangga lagu di berbagai radio negeri jiran. Letto juga berhasil meraih penghargaan Planet Muzik 2007 sebagai Grup Musik Terbaik di Singapura.

BACA JUGA: Kuburan Band: Band Nyentrik dari Bandung yang Tetap Eksis dengan Gaya “Horor Kocak”

Kesuksesan tersebut disusul album kedua, “Don’t Make Me Sad” (2007), dengan lagu andalan Sebelum Cahaya yang video klipnya dibintangi Amanda, seorang model tuna rungu. Lagu tersebut membawa pesan mendalam tentang kesepian dan kehilangan, sekaligus aksi sosial  sebagian hasil penjualannya disumbangkan untuk pembuatan buku huruf Braille.

Album ketiga Letto, “Lethologica” (2009), menampilkan lagu seperti Lubang di Hati, Senyumanmu, dan Kepada Hati Itu. Meski sempat vakum setahun, Letto kembali mengejutkan penggemar dengan album keempat “Cinta, Bersabarlah…”, yang menjadi simbol kembalinya mereka setelah lama absen.

“Kalau mereka mencintai Letto, mereka harusnya bisa bersabar,” ujar Patub, sang gitaris, dengan nada bercanda.

Kekuatan Letto tak hanya pada musiknya, tetapi juga pada pesan-pesan spiritual dan filosofis di setiap lirik. Tak heran jika beberapa lagu mereka menginspirasi karya sastra. Lagu Ruang Rindu bahkan diadaptasi menjadi novel oleh Andi Eriawan, diterbitkan oleh Gagas Media pada 2007.

Uniknya, film “Till Death Do Us Part” (2021) garapan Anggy Umbara disebut banyak pihak terinspirasi dari lagu Permintaan Hati  yang video klipnya juga disutradarai oleh Anggy sendiri.

BACA JUGA: Radja: Perjalanan Sang Raja Musik Rock Indonesia dari Banjarmasin ke Puncak Popularitas

Meski tak seaktif dulu, musik Letto tetap hidup di hati para pendengar. Lagu-lagu mereka kini kembali viral di berbagai platform digital seperti Spotify, YouTube, dan TikTok, menandakan bahwa karya-karya Letto mampu menjangkau lintas generasi.

Dengan kekuatan lirik dan nuansa khas Yogyakarta yang hangat, Letto terus menjadi simbol keindahan musik Indonesia — puitis, lembut, namun sarat makna. (KSC)

Pos terkait