Namun, para anggota ASEAN berhasil mengatasi sebagian perbedaan mereka dan, didukung oleh sebagian besar mitra dialog termasuk AS, Jepang dan Australia, mengeluarkan komunike 29 halaman yang mencakup beragam isu terkait kediktatoran Myanmar.
BACA JUGA: Bertemu Duta Besar USTR, Mendag: Dorong Kerja Sama Ekonomi Digital ASEAN-AS Untuk Pemberdayaan UMKM
Dikatakannya, perkembangan terbaru di negara yang sedang dilanda konflik itu, termasuk eksekusi empat aktivis oposisi sebelum KTT dimulai dan ketidakmampuan militer mencapai kemajuan dalam rencana perdamaian lima poin, dibahas dengan ekstensif.
“Kami sangat kecewa dengan minimnya kemajuan dan kurangnya komitmen otoritas Naypyidaw untuk menuntaskan implementasi dari Konsensus Lima Poin secara tepat waktu,” kata komunike itu, menambahkan bahwa “langkah berikutnya” sedang dipertimbangkan. (VOA)








