KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari pasangan selebritas Dahlia Poland dan Fandy Christian. Rumah tangga yang sudah dibangun sejak 2015 itu kini berada di ambang perceraian.
Sebuah foto berisi dokumen gugatan cerai Dahlia Poland terhadap Fandy Christian viral di media sosial. Gugatan tersebut tercatat di Pengadilan Negeri Badung, Bali, dan memicu berbagai spekulasi di kalangan warganet.
Namun, belum diketahui secara pasti alasan dibalik langkah Dahlia untuk mengakhiri rumah tangganya. Ditengah ramainya isu ini, Fandy Christian akhirnya buka suara melalui unggahan di Instagram pribadinya.
“Guys, please gak usah ikut campur masalah rumah tangga saya sama Dahlia,” tulis Fandy tegas, dikutip dari WartaKotaLive.com, Rabu (6/8/2025).
BACA JUGA: Aespa Siap Guncang Jakarta Lewat Konser SYNK: aeXIS LINE pada April 2026
Lebih lanjut, Fandy meminta publik untuk berhenti menerka-nerka penyebab keretakan rumah tangganya. Ia menekankan bahwa saat ini fokus utamanya adalah masa depan ketiga anaknya.
“Ini semua menyangkut masa depan anak-anak kita. Thank you. Bless day,” tambah Fandy.
Tak berselang lama, Dahlia Poland juga ikut angkat bicara. Ia meminta warganet untuk tidak menyebarkan isu yang tidak benar dan menunggu saat yang tepat untuk dirinya menjelaskan semuanya.
“Guuyyyss… Jangan melebar kemana-mana yaaa. Nanti ada waktunya aku ngomong kok. Tolong, makasih banyak netijen kuuu,” tulis Dahlia di Instagram Story-nya.
Sebelum gugatan cerai mencuat, hubungan pasangan ini sempat diterpa isu perselingkuhan yang membuat rumah tangga mereka dikabarkan retak. Meski sempat berdamai dan melanjutkan hubungan, ternyata keretakan itu belum sepenuhnya selesai.
BACA JUGA: Dahlia Poland Gugat Cerai Fandy Christian di PA Badung, Sidang Perdana 12 Agustus 2025
Kini, gugatan cerai resmi telah didaftarkan, dan publik menantikan kelanjutan proses hukum serta klarifikasi lebih lanjut dari kedua belah pihak.
Baik Dahlia maupun Fandy sama-sama meminta publik untuk menghormati privasi mereka di tengah proses perpisahan ini. Terlebih, mereka masih harus menjaga kondisi psikologis anak-anak yang menjadi prioritas utama. (KSC)








