Kenaikan Tarif Cukai Rokok Kunci Pengendalian Konsumsi Rokok

Kenaikan Tarif Cukai Rokok Kunci Pengendalian Konsumsi Rokok
Seorang PKL memegang rokok saat melayani konsumen di Jakarta, 15 Maret 2017. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

Kenaikan tarif cukai rokok dinilai menjadi salah satu kunci untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia, termasuk perokok anak yang jumlahnya kian mengkhawatirkan. Penundaan kenaikan tarif cukai rokok juga mengakibatkan hilangnya sejumlah dana dari penerimaan negara.

JAKARTA | kliksumut.com Sejumlah aktivis pengendalian tembakau sepakat bahwa pemerintah perlu meningkatkan tarif cukai rokok untuk menekan jumlah perokok di dalam negeri, termasuk di dalamnya jumlah perokok di kalangan anak-anak.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com bahwa peningkatan tarif cukai rokok dinilai tidak hanya dapat menekan jumlah perokok namun juga memberikan keuntungan dari segi ekonomi.

BACA JUGA: Ketua YLKI Sumut: Pencegahan Kanker Harus Dilakukan Secara Masif

Aliansi Pengendalian Tembakau Asia Tenggara atau Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA), menyoroti potensi dana sebesar Rp108 triliun yang hilang akibat cukai yang tidak optimal, serta fakta bahwa terdapat 457.700 masyarakat Indonesia yang meninggal dunia akibat masalah rokok. SEATCA merekomendasikan kenaikan level cukai rokok hingga 25 persen, sehingga dapat berpengaruh terhadap penerimaan negara dan diharapkan mampu menurunkan jumlah perokok.

Ketua Umum Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Hasbullah Thabrany, mengatakan kenaikan tarif cukai sebagai instrumen paling efektif dalam kebijakan pengendalian tembakau. Tingkat cukai di Indonesia, menurutnya, masih sangat rendah sehingga memungkinkan konsumsi rokok di masyarakat masih sangat tinggi.

“Tingkat cukai Indonesia masih terlalu rendah untuk tingkat income atau tingkat pendapatan per kapita penduduk, sehingga konsumsi belum cukup tertekan atau terkendali, sebagaimana cita-cita atau fitrahnya dari sebuah cukai yang sudah diatur dalam Undang-Undang Cukai, untuk pengendalian konsumsi,” ujar Hasbullah.

Data dari Komnas Pengendalian Tembakau menunjukkan bahwa jumlah perokok di Indonesia kini telah mencapai 65 juta jiwa, termasuk di antaranya anak-anak. Organisasi tersebut mencatat bahwa setiap tahunnya sekitar 300 miliar batang rokok kretek diproduksi dan dijual kepada masyarakat Indonesia, yang merupakan salah satu pasar rokok terbesar di dunia.

Pos terkait