KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Warna merah yang melambangkan kebahagiaan dan harapan memenuhi setiap sudut Ballroom Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (22/2/2026). Lebih dari 1.700 umat berkumpul dengan wajah berseri dalam Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional ke-27 (Tahun 2577 Kongzili). Namun, ada nuansa berbeda yang terasa begitu kuat tahun ini: kemeriahan Imlek berpadu khusyuknya bulan suci Ramadan.
Perayaan kolaboratif antara Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) dan Kementerian Agama menghadirkan potret toleransi yang nyata. Di satu sisi, umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa, menahan diri dan memperdalam spiritualitas. Di sisi lain, umat Khonghucu merayakan pergantian tahun dengan penuh syukur. Dua momen sakral itu tidak saling menegasikan, melainkan berpadu merajut kembali tenun kebangsaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan refleksi mendalam usai acara. Dalam doorstop bersama awak media, ia menegaskan bahwa pertemuan Imlek Nasional dan Ramadan bukan sekadar kebetulan kalender.
“Momen Imlek Nasional yang bertepatan dengan Ramadan ini bukanlah kebetulan. Keduanya membawa pesan yang berjalan beriringan. Ramadan mendidik nurani kita tentang kesederhanaan dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Ia melanjutkan, Imlek pun membawa pesan fundamental tentang keadilan, introspeksi diri, serta harapan tak putus akan persatuan bangsa.
Di atas mimbar, di hadapan ribuan umat yang menyimak dalam khidmat, Menag menegaskan bahwa umat Khonghucu dan etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan masa depan Indonesia.
“Jejak langkah dan dedikasi mereka turut memperkaya mozaik keberagaman Indonesia,” tegasnya, memastikan republik ini adalah rumah hangat bagi semua anak bangsa.
Perayaan yang dipersiapkan selama tiga bulan ini mengusung tema kuat: “Gài Jūn Wú Pín” – Bila Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan. Tema ini menjadi refleksi jujur atas kondisi nasional dan global yang tengah dilanda beragam krisis.
BACA JUGA: Kapolri Salurkan Bansos untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh Tengah
Ketua Umum MATAKIN, Xue Shi (Xs.) Budi Santoso Tanuwibowo, menegaskan bahwa keadilan kerap indah diucapkan, namun belum sepenuhnya hadir dalam realitas hidup rakyat kecil.
“Bagi sebagian orang, keadilan masih sebatas impian di tengah negeri yang sejatinya kaya raya, namun kemiskinannya enggan beranjak pergi,” ujarnya.
Menurutnya, kepemimpinan sejati harus menjadikan keadilan sebagai mahkota utama. Dari keadilan akan tumbuh cinta, dari cinta lahir persatuan, dan dari persatuan tercipta kesejahteraan.
Xs. Budi juga mengajak umat menyelami Imlek tidak sekadar dari pendar lampion dan perayaan budaya, tetapi dari empat makna esensial:
-
Sistem penanggalan spiritual yang mengingatkan pada kelahiran Nabi Kongzi (551 SM).
-
Kembali ke titik nol, melepaskan keburukan dan ego masa lalu.
-
Laku bakti kepada Tuhan, leluhur, dan orang tua.
-
Kepedulian sosial, sebagai fondasi gotong royong dan solidaritas kebangsaan.
Makna keempat menjadi sorotan utama di tengah tantangan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Tanpa kepedulian terhadap yang lemah, bangsa sebesar apa pun akan mudah goyah diterpa zaman.
Acara ditutup dengan drama kolosal berjudul “Nusa Jaya”. Lakon ini mengisahkan seorang raja yang baru naik takhta namun tak mampu tidur nyenyak karena memikirkan nasib rakyat kecil.
BACA JUGA: Kemenkes RI dan WHO Teken Grant Agreement 2026–2027, Perkuat Ketahanan Sistem Kesehatan Nasional
Kisah tersebut menjadi metafora kuat bahwa kekuasaan bukanlah privilese, melainkan amanah. Tangis dan lapar rakyat adalah beban moral pemimpin. Drama ini seolah menjadi cermin raksasa bagi para pemangku kebijakan agar menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama.
Di Tahun Baru 2577 Kongzili yang dinaungi elemen Kuda Api, doa yang sama terucap di bawah langit Ramadan: semoga keadilan benar-benar terbit di tanah air.
Perpaduan Imlek dan Ramadan tahun ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah. Justru dalam keberagaman itulah Indonesia menemukan kekuatannya. Sebab hanya dengan keadilan, air mata kemiskinan dapat dihapus dari bumi pertiwi.





