Hydro: Band Metal Bandung dengan Filosofi Energi Air yang Mengguncang Skena Ekstrem

Hydro: Band Metal Bandung dengan Filosofi Energi Air yang Mengguncang Skena Ekstrem
Hydro (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM – Hydro merupakan kelompok musik asal Bandung yang dikenal membawa warna unik dalam dunia rock ekstrem Indonesia. Mengusung aliran rock dengan subgenre brutal death metal hingga progressive rock, band ini identik dengan tempo permainan super cepat, progresi nada kompleks, dan konsep filosofis yang kuat dalam setiap karya mereka.

Nama Hydro diambil dari etimologi kata “Ci” dalam bahasa Sunda yang berarti air. Bagi para personelnya, air bukan sekadar unsur alam, tetapi simbol sumber kehidupan dan energi. Filosofi ini kemudian diterjemahkan dalam musikalitas mereka—mengalir deras, dinamis, dan penuh tenaga—serta dalam penjelasan lirik yang tertuang dalam liner notes setiap karya.

Bacaan Lainnya

Hydro lahir di tengah geliat skena musik ekstrem lokal Bandung pada sekitar 2005. Band ini didirikan oleh tiga musisi: Lulu Lukman Nul Hakim (gitar), Dicky Supriyadi (bass) dan Ari Iradea (drum)

Mereka berkembang bersama berbagai band ekstrem lainnya seperti Bleeding Corpse, Digging Up, Infamy, dan Jihad.

Memasuki tahun kedua, trio ini mulai merekam materi demo di TearGas Studio milik Irsyad Ali Sofi dan Arif Ganjar dari band Glosalia yang berlokasi di kawasan Cicadas–Cibeunying Kidul, Bandung.

Demo tersebut diberi judul “Guitar Guide Line”, berisi enam lagu yang dirancang sebagai extended play (EP). Seluruh komposisi utamanya digarap oleh Lukman.

Dalam perjalanan awal band, Hydro sempat menghadapi berbagai perubahan formasi. Sang drummer awal, Ari Iradea, memutuskan keluar untuk fokus pada proyek lain seperti The Earth Bleeds Fire dan Bleeding Corpse.

BACA JUGA: Humania: Perjalanan Duo Jazz Pop Indonesia yang Vakum 16 Tahun dan Kini Kembali Berkarya

Posisi drum kemudian sempat diisi beberapa nama penting di skena metal Bandung, di antaranya: Denny Guick – pendiri Noise Damage dan Dajjal, Vebby Permana dari band Jihad, Hendrawan Saputra dari Plasmoptysis

Pergantian ini terjadi karena padatnya jadwal masing-masing personel dengan proyek band lain. Misalnya, Dicky Supriyadi juga aktif di band death metal legendaris Bandung, Forgotten.

Di masa transisi tersebut, Lukman dan Dicky kemudian mengajak vokalis Andri S dari Digging Up dan Turbidity, serta gitaris ritme Saputra Ekonadi.

Formasi kuartet ini berhasil merekam demo “Sabbatical Repugnant” sebagai single awal. Demo tersebut mulai beredar di komunitas metal underground dan masuk dalam beberapa kompilasi internasional, termasuk: Occult Science of Metal – International Compilation Vol. 1 (2011). Jahanam Complicated Series Vol. 1 Hal ini memperluas eksposur Hydro di jaringan musik ekstrem global.

Fase berikutnya ditandai dengan masuknya Agus Solihin atau Bgiuw, yang sebelumnya dikenal sebagai personel band metal Bandung Infamy.

Keputusan Bgiuw meninggalkan Infamy setelah hampir dua dekade sempat menimbulkan perbincangan di komunitas metal. Namun dalam pernyataan resminya, ia menyebut bahwa bergabung dengan Hydro adalah bagian dari perjalanan musikal dan personalnya.

Langkah serupa juga diambil oleh Bobby Pamungkas yang bergabung dengan Hydro di tengah tur panjang bersama Bleeding Corpse serta penggarapan album “Condemned to Suffer”.

BACA JUGA: Perjalanan Karier Hijau Daun di Industri Musik Indonesia

Dengan perjalanan panjang penuh dinamika, Hydro tetap menjadi salah satu representasi penting dari eksperimen musik ekstrem Indonesia. Perpaduan antara brutalitas death metal, progresivitas komposisi, dan filosofi “energi air” menjadikan band ini memiliki identitas yang kuat di antara band-band metal tanah air.

Bagi komunitas underground, Hydro bukan sekadar band, tetapi juga simbol ketekunan, eksplorasi musikal, dan semangat kolektif skena metal Bandung. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait