Hidup di Amerika, Diaspora Indonesia Makin Giat Promosi Budaya, Tanam Jati Diri pada Anak

Hidup di Amerika, Diaspora Indonesia Makin Giat Promosi Budaya, Tanam Jati Diri pada Anak
Kelompok Rumah Gadang USA saat tampil di Kedutan Besar RI di Washington, D.C. (dok: Nani Afdal)

Jiwa Nasionalisme

Bagi diaspora Indonesia, Mouriena Amalia yang tinggal di negara bagian Maryland, kerinduan akan menari tarian tradisional Indonesia mendorongnya untuk mendirikan sanggar budaya pada tahun 2008 dibawah nama Wratnala USA.

Sempat berganti nama menjadi Spotlight Studio yang juga menawarkan kelas zumba dan vakum ketika pandemi COVID melanda, perempuan yang akrab disapa Mourien ini bangkit dan kembali menekuni dunia tari yang ia cintai dengan membangun Spotlight Academy.

“Dulu waktu di Indonesia saya dikursusin nari sama papa. Tapisaya enggak suka untuk tampil, gitu loh. Untuk tampil, kecuali kalau lagi ada lomba nari, rasanya semangat,” papar Mourien kepada VOA.

“Nah, begitu pindah ke (Amerika), baru jiwa nasionalismenya keluar karena waktu ikut nari, orang-orang Amerika yang melihat kita menari tuh mesmerize (tersepona.red) banget, gitu. Kebudayaan kita itu keren banget,” tambahnya.

Kini, Spotlight Academy memiliki 21 murid berusia antara 10 dan 44 tahun. mereka berlatih setiap minggu. Mourien mengajarkan murid-muridnya berbagai tarian tradisional Indonesia.

“Kita basically (mengajarkan tari-tarian) dari Sabang sampai Merauke ya, karena kita maunya belajar kebudayaan Indonesia itu enggak cuma satu pulau,” kata Mourien.

“Kebetulan kita juga punya background dari berbagai macam daerah. Papa saya yang dari Sumatera, dari Lampung. Mama saya dari Menado. Saya lahir di Jawa,” tambahnya.

Mourien pun lantas menggandeng diaspora Indonesia, Dya Halma, yang berpengalaman sebagai penari latar dan kini menetap di negara bagian Maryland.

“Pada saat pindah, (saya) ingin akarnya tetap terjaga dan budayanya tetap ada, dan juga sekalian cari komunitas teman,” kata Dya Halma kepada VOA.

“Sampai di (Amerika) tahun 2013, langsung bergabung dan ketemu Mbak Mourien,” paparnya.

Menampilkan Tradisi dan Keaslian

Setiap minggu, Dya Halma dan Mourien meluangkan waktu untuk berlatih dan mengajar murid-murid yang usianya beragam. Tidak hanya mengajarkan teknik menari, mereka juga memperkenalkan cerita dan sejarah dibalik masing-masing tarian.

“Saya ingin juga anak-anak menjiwai tarian itu karena kita (menari) juga kan ingin (menyampaikan pesan.red) ke penontonnya. Enggak cuma asal hafal,” jelas Mourien.

Namun, dalam mengajar tentu saja ada tantangan, khususnya ketika harus menerjemahkan nilai-nilai dari masing-masing tarian dan maknanya kepada anak-anak Indonesia keturunan Amerika. Menurut Dya ada gaya atau aksen Indonesia yang sulit untuk disampaikan dalam bahasa Inggris.

“Kayak model Jaipong. Kita agak susah bilang ke anak-anak ‘yang centil ya,’” ujar Dya.

Mourien menambahkan bahwa ia pun ditantang untuk tetap memperlihatkan keaslian sebuah tarian tradisional, khususnya ketika ditampilkan oleh anak-anak Indonesia yang lahir dan besar di Amerika.

Kacang Tidak Lupa Kulit

Sebagai orang tua yang berasal dari Indonesia dan menetap di Amerika, Diana Dunham merasa sebagian dari pekerjaannya untuk “menetapkan jati diri yang baik untuk anak-anak” sudah selesai.

“Mereka tahu mereka itu dari mana dan mereka bangga mengatakannya,” jelas Diana.

Sama seperti Diana, Dya Halma juga ingin anaknya, Arjuna, mengenal Indonesia agar kelak tidak mengalami krisis identitas. Dia ingin Arjuna, yang berdarah Amerika, bisa menerima akar budaya ibunya yang dari Indonesia.

“Pada saat dia ke Indonesia mungkin dia bisa lebih apresiasi. Bagaimana kita bisa mengapresiasi budaya seseorang kalau kita sendiri cuma bisa melihat?” ucap Dya.

“Budaya itu harus dirasakan oleh semua panca indera. Dari makanan, Arjuna suka banget makanan Indonesia, dari suara kita ngomong bahasa Indonesia, dia bisa menangkap, dari mulai kita bergerak, menyanyi, dia tahu bagaimana gerak saman, seperti itu,” tambah Dya.

Bagi Mardy Ridha yang sejak 3.5 tahun belakangan ini menetap di negara bagian Maryland, sangatlah penting untuk menanamkan budaya Indonesia kepada putrinya, Audrey Fatima Farid. Menurutnya, anak-anak seperti Audrey yang tinggal di lingkungan dengan budaya yang berbeda “perlu tahu identitas mereka.”

“Jadi seperti pohon tidak akan bisa tumbuh dengan baik tanpa akar yang baik,” jelas perempuan yang juga adalah diplomat RI yang tengah bertugas di Kedutaan Besar RI di Washington, D.C. ini.

Salah satu upayanya adalah dengan bergabung dengan sanggar-sanggar tari dan budaya di daerah Washington, D.C. Tidak pernah tampil dalam ajang budaya di Indonesia sebelumnya, kini bersama Audrey, Mardy malah kerap tampil di berbagai pementasan budaya Indonesia, festival-festival internasional, dan juga di University of District of Columbia.

Ia pun mengakui bahwa tinggal jauh dari tanah air telah mendorongnya untuk lebih aktif mengikuti kegiatan budaya, sekaligus memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada warga internasional.

“Memang ini adalah saat di mana Anda menjadi wakil dari negara Anda, budaya Anda, orang-orang Anda, nilai dan prinsip Anda,” papar Mardy.

Menurut Mardy, dalam hal ini tidak hanya putrinya yang belajar, namun ia juga merasa perlu untuk mempelajari kembali nilai-nilai yang ia percaya sebagai orang Indonesia.

BACA JUGA: Diaspora Indonesia Harapkan Kestabilan dan Keamanan di Tahun 2025

“Jadi dia lihat bahwa ibunya juga melakukan hal yang sama dengan dia,” ujar Mardy.

“Jadi setidaknya saya juga sedikit memberikan teladan bahwa (semua ini berasal dari keluarga),” tambahnya.

Bangun Rasa Kekeluargaan

Tidak hanya memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak generasi ke-2 diaspora Indonesia, sebagai pengajar tari dan pegiat budaya Indonesia, Mourien juga bercita-cita untuk menciptakan rasa kekeluargaan di dalam sanggarnya. Menurutnya, keluarga tidak akan meninggalkan kita begitu saja.

“Saya ingin mereka merasa di grup kita itu kekeluargaan. Jadi biar kuat. Ini juga ada beberpa mantan-mantan murid menari yang sekarang sudah banyak yang menikah. Begitu melihat kita tampil lagi, mereka mau balik lagi,” ujarnya.

“Mereka masih umur 8-9 tahun waktu pertama kali ikut menari,” tambahnya.

Nani Afdal pun berharap sanggarnya yang giat memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada publik Amerika, dapat membuka mata anggotanya, khususnya yang anak-anak, mengenai Indonesia yang kaya budaya.

“Alhamdulillah kami merasa bersyukur bahwa enggak pernah terbayangkan juga akan beraktivitas budaya di samping pekerjaan-pekerjaan rutin kita setiap hari,” paparnya.

Merupakan suatu hal yang luar biasa bagi Nani ketika melihat para orang tua diaspora Indonesia beserta anak-anaknya aktif, bahkan semangat, dalam berlatih dan tampil. Tak bisa ditutupi, ia bangga bisa ikut mengembangkan budaya negara asalnya di Amerika Serikat. (VOA)

Pos terkait