Harga Perak Melonjak 5,5% dalam Sepekan, Sentuh Level Tertinggi Hampir Dua Pekan di Tengah Pelemahan Dolar AS

Harga Perak Melonjak 5,5% dalam Sepekan, Sentuh Level Tertinggi Hampir Dua Pekan di Tengah Pelemahan Dolar AS
Harga perak mencatat kinerja impresif sepanjang perdagangan pekan ini. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM Harga perak mencatat kinerja impresif sepanjang perdagangan pekan ini dengan kenaikan sekitar 5,5%, didorong oleh melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mengurangi tekanan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada perdagangan Jumat (3/7/2026) ditutup di level US$62,40 per troy ons, meningkat signifikan dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya yang berada di US$59,16 per troy ons. Penguatan tersebut membawa harga perak kembali ke level tertinggi dalam hampir dua pekan terakhir.

Sepanjang pekan, pergerakan harga perak berlangsung secara bertahap. Pada awal perdagangan, logam mulia ini sempat melemah ke kisaran US$58 per troy ons. Namun, sentimen positif mulai mendorong harga naik hingga menembus US$61 pada Kamis sebelum akhirnya ditutup di atas US$62 pada Jumat.

BACA JUGA: Harga Perak Hari Ini 26 Juni 2025: Cek Daftar Lengkapnya dalam USD dan Rupiah!

Kenaikan ini terjadi seiring perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan 57.000 lapangan kerja sepanjang Juni, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan sekitar 110.000 pekerjaan.

Angka tersebut menjadi pertumbuhan lapangan kerja paling lambat dalam empat bulan terakhir dan memunculkan spekulasi bahwa ekonomi AS mulai mengalami perlambatan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali menghitung peluang perubahan kebijakan moneter The Fed.

Mengacu pada CME FedWatch Tool, peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi sekitar 50%, lebih rendah dibandingkan sebelum data ketenagakerjaan diumumkan.

Prospek suku bunga yang lebih rendah umumnya menjadi katalis positif bagi logam mulia seperti perak dan emas karena menurunkan biaya peluang investasi pada aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Selain faktor suku bunga, pelemahan dolar AS juga menjadi pendorong utama reli harga perak. Mata uang Negeri Paman Sam itu mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April.

Secara historis, pergerakan harga perak memiliki korelasi negatif terhadap dolar AS. Ketika dolar melemah, harga logam mulia cenderung lebih menarik bagi investor global karena menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Pasar juga mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang menyebut ekspektasi inflasi terus bergerak lebih moderat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan akan terus memantau perkembangan data ekonomi sebelum menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Komentar tersebut dinilai memberikan sinyal bahwa The Fed akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait suku bunga.

Walaupun harga perak saat ini masih berada di bawah posisi satu bulan lalu, performanya dalam jangka panjang tetap menunjukkan tren yang sangat kuat.

BACA JUGA: Kemenperin Optimistis Industri Perhiasan Nasional Tetap Tumbuh di Tengah Tren Kenaikan Harga Emas

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, harga perak masih mencatat kenaikan sekitar 69%, mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ke depan, arah pergerakan harga perak diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, terutama inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Selama ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve tetap terjaga dan dolar AS masih berada dalam tren melemah, peluang penguatan harga perak masih terbuka. Namun, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas yang berpotensi meningkat seiring rilis berbagai data ekonomi penting dalam beberapa pekan mendatang. (KSC)

Pos terkait