Harga Emas Dunia Meredup, Kenaikan Inflasi AS dan Dolar Perkasa Jadi Pemicu

Harga Emas Terjun Bebas ke Level Terendah 2 Pekan, Gencatan Senjata Israel-Iran Jadi Pemicu
Harga emas dunia kembali anjlok dan menyentuh level terendah dalam dua minggu terakhir. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA Harga emas dunia kembali melemah setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan peningkatan yang memudarkan harapan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Penguatan indeks dolar AS dan ketidakpastian negosiasi tarif dagang global turut memperparah tekanan terhadap logam mulia tersebut.

Pada perdagangan Selasa (15/7/2025), harga emas dunia turun 0,64% ke level US$3.322,18 per troy ons. Ini menjadi hari kedua berturut-turut harga emas terjun di pasar global. Kinerja negatif ini juga terjadi seiring lonjakan indeks dolar AS yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor asing.

Namun pada perdagangan Rabu pagi (16/7/2025) pukul 06.34 WIB, harga emas di pasar spot sempat bangkit tipis, naik 0,23% ke US$3.329,79 per troy ons. Meski demikian, tren masih menunjukkan tekanan seiring ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan gejolak dagang yang memanas.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Melemah Usai Melesat 3 Hari, Pasar Waspadai Dolar AS dan Ketegangan Dagang

Inflasi Naik, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Pupus

Laporan inflasi AS bulan Juni menjadi sorotan utama. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 0,3% secara bulanan (mtm) dan 2,7% secara tahunan (yoy). Meski inflasi inti (tidak termasuk energi dan makanan) hanya naik 0,2% mtm, namun secara tahunan mencapai 2,9% yoy, melampaui ekspektasi banyak analis.

Bacaan Lainnya

Data tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan menahan diri dari pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Padahal, suku bunga rendah umumnya menjadi katalis positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset non-yield seperti emas.

Dolar AS Perkasa, Emas Tertekan

Penguatan dolar AS menjadi faktor penekan lainnya. Pada Selasa (15/7), indeks dolar AS naik 0,55% ke 98,62, mencatatkan penguatan selama tujuh hari berturut-turut. Dolar yang semakin kuat membuat emas relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

“Pasar saat ini sangat fokus pada perkembangan tarif dagang dan kebijakan moneter. Meski emas masih berada dalam rentang harga yang stabil sejak pertengahan Mei, namun butuh pemicu baru agar bisa menembus level US$3.400 per troy ons,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, dikutip dari Reuters.

Trump Buka Fron Baru Perang Dagang

Presiden Donald Trump kembali membuat pasar global bergejolak. Ia mengumumkan bahwa mulai 1 Agustus, AS akan menerapkan tarif 30% terhadap barang-barang impor dari Uni Eropa dan Meksiko. Selain itu, Trump juga mengancam akan memberlakukan “tarif sekunder” sebesar 100% terhadap mitra dagang Rusia.

Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump kembali menekan The Fed agar memangkas suku bunga, dengan alasan harga konsumen yang relatif rendah. Meski demikian, pelaku pasar tetap melihat peluang pemangkasan suku bunga baru akan terbuka pada September 2025 mendatang.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Ketidakpastian Perang Dagang dan Kebijakan The Fed

Pasar Tunggu Data Tambahan

Investor kini menanti rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan keluar hari ini, Rabu (16/7), sebagai indikator lanjutan inflasi. Data tersebut bisa memberikan petunjuk tambahan bagi The Fed dalam mengambil kebijakan suku bunga ke depan.

Menurut Tai Wong, analis independen, harga emas seharusnya bisa lebih “bergairah” dengan situasi global saat ini. “Namun, tampaknya pasar masih menunggu pemicu yang lebih kuat untuk membawa harga emas menembus kembali level psikologis US$3.400,” katanya.

Outlook Emas Masih Positif di Tengah Ketidakpastian

Meski tekanan jangka pendek membayangi, emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Lingkungan suku bunga yang masih relatif tinggi saat ini memang menjadi tantangan, namun prospek pelonggaran moneter dalam beberapa bulan ke depan bisa mengembalikan daya tarik logam mulia ini. (KSC)

Pos terkait