Getah Band: Legenda Rock Jakarta yang Bangkit dari Masa Vakum hingga Tembus Festival Internasional

Getah Band: Legenda Rock Jakarta yang Bangkit dari Masa Vakum hingga Tembus Festival Internasional
Getah Band (foto/ist)

KLIKSUMUT.COMGetah adalah grup band rock asal Jakarta yang telah menjadi bagian penting dari dinamika musik underground Indonesia sejak pertengahan 1990-an. Dibentuk pada tahun 1995, perjalanan panjang Getah diwarnai dengan pergantian personel, masa vakum, hingga kebangkitan yang membawa mereka tampil di panggung internasional seperti Hammersonic dan Everloud Festival di Jepang.

Getah berdiri pada 1995 di Jakarta, digagas oleh Marcel Marcive (bass), Jodie Gondokusumo (vokal), Reeve (drum), dan Boy Faisal (gitar). Secara historis, band ini lahir dari pecahan dua band underground ternama, Bottom Up dan Rotor.

Di era awal, warna musik Getah banyak dipengaruhi oleh musisi dunia seperti Sex Pistols, Testament, Jimi Hendrix, dan Black Sabbath.

Tak lama setelah terbentuk, Getah merilis album debut self-titled yang diproduksi oleh Warner Music. Album ini direkam di Triple M Studios Jakarta oleh Harry dan menjalani proses mastering di Dave Wellhousen Studio, San Francisco, Amerika Serikat. Lagu andalan mereka, “Api”, menjadi tumpuan utama album tersebut. Sayangnya, minimnya promosi membuat album ini kurang terdengar gaungnya di industri musik nasional kala itu.

Perubahan personel mulai terjadi ketika Reeve kembali ke Amerika Serikat dan posisinya digantikan oleh Tyo Nugros. Namun, Tyo kemudian bergabung dengan Dewa 19 dan digantikan oleh Bimbino.

Bacaan Lainnya

Peter St. John yang awalnya bergabung sebagai keyboardist kemudian beralih menjadi gitaris utama setelah Boy Faisal meninggal dunia pada 1998. Masuknya Adra Dala, keyboardist jazz dari Tomorrow People Ensemble, membawa warna baru yang kontras dengan karakter rock Getah.

Dalam formasi ini, Getah merilis mini album (EP) “Green Wine” yang hanya diproduksi dalam format kaset dan jumlah terbatas—kini menjadi rilisan langka yang diburu kolektor.

Periode 1998–2005 menjadi masa paling sulit. Jodie Gondokusumo, sang vokalis yang juga mantan suami Ayu Azhari, meninggal dunia pada 2002. Kepergian Jodie membuat Getah vakum cukup lama.

BACA JUGA: Garasi, Band Alternative Rock Indonesia yang Lahir dari Film Layar Lebar

Marcel bahkan sempat merangkap sebagai bassis sekaligus vokalis. Dalam periode ini, Agung Cakra Manggala masuk menggantikan posisi drummer.

Pada 2005, Getah kembali muncul dengan menyumbangkan lagu “Closing Chapter” untuk soundtrack film nasional Gerbang 13.

Titik balik terjadi pada akhir 2005 ketika Oddie Octaviadi, frontman band industrial rock Sic Mynded, kembali ke Indonesia setelah 15 tahun bermusik di Amerika Serikat. Awalnya hanya membantu latihan, Oddie akhirnya resmi bergabung sebagai vokalis baru Getah.

Tahun 2008 menjadi momen kebangkitan Getah. Mereka merilis album “Release is Peace” yang berisi 11 lagu, dengan single utama “Segitiga Bermimpi” yang juga menjadi soundtrack film In The Name of Love. Album ini turut menghadirkan musisi tamu seperti Syaharani, Iwan Hasan (Discus), Ricky Siahaan (Seringai), dan Alexandra J. Wuisan (Sieve).

Di penghujung 2008, Richard Mutter (mantan drummer PAS Band) bergabung menggantikan Agung. Formasi ini melahirkan single “For The Love of God” dan tampil perdana pada malam tahun baru 2008–2009 di Purwokerto.

Pada 2010, Alfa Putra (mantan additional gitaris Boomerang) bergabung memperkuat lini gitar Getah.

Oktober 2012, Getah merilis single “Scared of You” yang didistribusikan secara digital melalui Rolling Stone Indonesia, menandai adaptasi mereka terhadap era distribusi musik digital.

Getah juga menggarap album ketiga bertajuk sementara “In Mortem Libertas”, dengan single “The Last Lust” yang melibatkan Marcell Siahaan sebagai pengisi drum.

Eksistensi Getah di panggung rock semakin kuat ketika mereka tampil di Hammersonic Festival 2018 di Ancol, Jakarta—festival metal terbesar di Asia Tenggara.

BACA JUGA: Gangstarasta, Ikon Reggae Indonesia Sejak 2001 yang Terus Berkarya dan Menginspirasi

Di tahun yang sama, Getah juga menembus pasar internasional dengan tampil di Everloud Festival di Jepang, mempertegas reputasi mereka sebagai band rock Indonesia yang konsisten dan berdaya tahan tinggi.

Dari underground Jakarta hingga panggung internasional, perjalanan Getah adalah kisah tentang konsistensi, kehilangan, dan kebangkitan. Dengan lebih dari dua dekade perjalanan, berbagai pergantian personel, serta eksplorasi musikal yang terus berkembang, Getah tetap menjadi salah satu band rock Indonesia yang patut diperhitungkan.

Bagi pencinta musik rock Tanah Air, nama Getah bukan sekadar band—melainkan simbol daya juang dan dedikasi terhadap musik yang tak lekang oleh waktu. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait